California – blink-182

Dibuka dengan Cynical, sebuah lagu yang dimulai dengan santai namun kemudian dilanjutkan dengan beat kencang seperti kebanyakan lagu di Dude Ranch. Lagu kedua adalah Bored to Death, mengingatkan saya akan beberapa lagu di Take Off Your Pants and Jacket. Dua lagu awal memberikan kesan bahwa band yang meluncurkan Cheshire Cat (album studio pertamanya) pada tahun 1995 ini ingin mengajak penggemarnya bernostalgia setelah Neighborhoods (2011) yang dirilis eksklusif hanya di Amerika Serikat gagal merenggut kesuksesan dari sisi penjualan, yang mana memberikan kesan kurang diminati secara kualitas bukan?

California adalah album studio ketujuh blink-182, ini juga merupakan album pertama mereka dengan Matt Skiba (eks-Alkaline Trio) yang berarti formasi baru. Skiba yang aktif sejak Juli 2015 lalu tampak mudah menyesuaikan diri dengan Mark dan Travis, perubahannya malah tidak kentara. Beberapa orang yang sudah lama tidak mendengarkan blink-182 tidak akan merasakan perubahan dalam musik mereka, seperti saya.

California menawarkan lagu-lagu seperti Los Angeles, San Diego dan California yang mendeskripsikan lingkungan di mana mereka besar dan mencari penghidupan selama ini. Menurut Skiba, album ini mendeskripsikan California secara tematis, yang kemudian menjadi dasar pemilihan judul album.

Big and bright and huge and dark and twisted, everything that California is.

Secara keseluruhan, selain menawarkan nostalgia, California juga menggambarkan betapa mereka berusaha keras untuk mempertahankan jati diri band yang lekat dengan anak mudah serta kehidupan sosial di sekitarnya. Lirik-lirik melankolis juga mereka sajikan di sini, Home is Such A Lonely Place, terlepas dari sudut pemahaman masing-masing, memberikan sensasi kesepian seseorang tanpa kehadiran orang yang biasa menyertainya, mengingatkan kita akan Miss You dan I’m Lost Without You dari album self titled mereka blink-182 (2003).

Favorit saya Kings of the Weekend, sebuah lagu yang ceria dengan ketukan naik-turun, knows that Barker still having it! Secara pribadi, saya yang (selalu) merindukan rilisan mereka akan sangat bahagia dengan kehadiran California. Angin segar dari bergabungnya Skiba, produktifitas mereka akan lebih tinggi setelahnya.

California bisa didengarkan di Spotify melalui tautan berikut: blink-182 – California

Berikut adalah klip dari 6/8 yang baru dirilis (bagian dari versi Deluxe album ini). Sebuah lagu yang lebih gelap dari kebanyakan lagu blink-182.

Kishi Bashi – Sonderlust

K. Ishibashi atau lebih dikenal dengan Kishi Bashi merilis album ketiganya akhir September tahun ini. Album berisi 10 track ini diproduseri Kishi Bashi sendiri dan Chris Taylor (produser dan bassist Grizzly Bear).

K, biasa dia disebut, mengungkapkan bahwa album ini terlahir ketika dia berada dalam suatu kondisi yang biasa disebut oleh para musisi sebagai “kebuntuan musik” –masa dimana semua karya yang coba dibuatnya terdengar seperti sebuah ruangan kosong, menguap begitu saja. Dalam situasi psikologis seperti itu, K juga dilanda krisis dalam kehidupan pribadinya. Paska merilis 151a dan Lighght, K memang disibukan dengan tur dan kehidupan laiknya pesohor yang menurut pengakuannya cukup melelahkan dan menyita banyak waktu. Hal tersebut tentu saja memberikan pengaruh besar terhadap keluarganya.

Sonderlust terlahir dari kebuntuan dan patah hati. K menyebut album ini sebagai albumnya yang paling personal dan merangkum perjalanan musikalitasnya selama ini.

This album is straight from my soul. I questioned everything about what it means to love and desire. The difference between loving someone and being in love.

Favorit saya adalah track pembuka, m’lover. Sentuhan ukulele memberikan kesan etnik yang kental pada musiknya. Dilanjut dengan Hey Big Star yang mengajak kita untuk berdansa dengan beat yang ringan. Track ketiga adalah Hey Yeah yang dibuka oleh nuansa chiptunes, mengajak kita bernostalgia ke era 80-an. Track keempat bernuansa new wave/synthpop, Can’t Let Go, Juno judulnya, mengingatkan saya akan New Order, track berikutnya Ode to My Next Life juga tidak jauh beda karakternya dengan track keempat ini.

Sampai dengan track kesepuluh, Honeybody, saya tidak melihat niatan K untuk membuat sebuah album mono-karakter. Sonderlust terdengar seperti sebuah wadah untuk K berimprovisasi secara musikal, kaya penuh kejutan. Walaupun diklaim sebagai album yang terlahir dari konflik pribadi, Sonderlust cukup segar untuk dinikmati di pagi hari bulan Desember yang seringkali muram ini.

Sonderlust bisa didengarkan dan dibeli melalui Bandcamp player di bawah.

Memperkenalkan Charlotte Cardin

Saat blog ini masih aktif, saya sering kali memperkenalkan musisi-musisi asal Kanada. Dua tahun terakhir saya memang tidak mendengarkan banyak musisi baru, sampai Spotify masuk Indonesia. Charlotte Cardin adalah salah satu singer-songwriter Kanada yang saya temukan melalui Spotify.

Memulai karirnya sebagai seorang model, Charlotte ternyata menyukai seni tarik suara sejak kecil berkat sang Ibu yang terus mendorong dia dan kakak perempuannya untuk mengikuti les musik. Dalam wawancaranya dengan MySpace, gadis asal Montreal – Kanada ini mengaku belajar menyanyi sejak umur 8 tahun dan langsung jatuh cinta dengan kesenian ini. Sepuluh tahun Charlotte hanya bernyanyi untuk menyalurkan hobinya saja, sampai dia mengikuti sebuah kompetisi menyanyi La Voix atau The Voice versi Perancis yang juga ditayangkan di Kanada pada tahun 2013 lalu.

Charlotte mengaku banyak sekali pengalaman yang didapat dari mengikuti acara adu bakat tersebut. Dia lantas mulai menulis beberapa lagu dan mulai lebih dalam lagi dalam membuat musiknya sendiri.

 

 

Berbekal pengalaman tersebut, sekembalinya Charlotte ke Kanada jadi titik awalnya untuk mulai menekuni musik sebagai karirnya. Album pertamanya diberi judul Big Boy, dirilis awal tahun 2016 ini. Debut berisi 6 lagu studio dan 2 lagu konser bisa ditemukan di iTunes dan bisa didengarkan melalui Soundcloud player yang saya sertakan dalam post ini juga tentu saja melalui Spotify. Klip terbarunya untuk track Like It Doesn’t Hurt bisa ditonton di akhir post ini.

Selain Like It Doesn’t Hurt yang jadi single andalan sekaligus favorit saya, ada Les échardes yang berbahasa Perancis yang patut dicoba untuk dinikmati. Big Boy juga enak untuk didengarkan. Nuansa Amy Winehouse sedikit terasa dalam karya-karya Charlotte, dalam beberapa kesempatan dia mengutarakan kekagumannya akan sosok Amy.

Blog musik Crack In The Road menyebut Charlotte sebagai most emerging artist of the year dan saya enggan untuk menyangkalnya.

 

Liga Musisi Bawah Tanah

Liga Musisi Bawah Tanah

Liga Musisi Bawah Tanah adalah sekumpulan musisi yang senang sekali bermain musik sambil berkumpul di bawah tanah. Karena tempat asal dan tempat tinggal mereka di bawah tanah, segala sesuatu tentang Liga Musisi Bawah Tanah adalah rahasia. Identitas, siapa-siapa saja yang terlibat, arah dan tujuan mereka, serta banyak hal yang berkaitan dengan mereka sifatnya dirahasiakan. Beruntunglah kita, kerahasiaan mereka tidak berkelanjutan dengan merilis sebuah album rahasia dengan materi yang juga rahasia, sehingga tidak satupun orang yang mengetahuinya, karena kalau saja begitu bakat serta kemampuan mereka bermusik akan menjadi sia-sia.

Inkonsistensi mereka dalam kerahasiaan membawa kita ke tanggal 20 April 2012, dimana Liga Musik Bawah Tanah merilis sebuah album debut berjudul Liga Musik Bawah Tanah secara daring. Album tersebut berisi 9 buah lagu, dimulai dengan track super-absurd berjudul Anjing Lypsinc, sebuah track satu menit yang bercerita tentang.. anjing. Track berikutnya John Lemmon And The Ora Ono Plastic Band adalah track dengan judul paling panjang serta paling menarik perhatian. Acungan jempol untuk judulnya yang berbau parodi, jempol lainnya untuk musik yang disuguhkan.

Sisa album ini adalah musik-musik luar biasa dengan lirik-lirik absurd, bahkan track paling serius mereka Dia Yang Terlupakan mempunyai lirik yang kriptik nan susah dicerna. Musik mereka beragam, saya mendengar Coldplay, Nirvana, The Rolling Stones, sampai dengan musik tunduk ala The Milo dalam album ini. Saya juga mendengar ada pengaruh kental Robby Krieger (The Doors) pada beberapa lagu, bahkan di track Gimbal Sambung yang dibuat seperti reggae sekalipun suara gitar masih terdengar sangat Krieger.

Musik adalah bagaimana seseorang merangkum semua apa yang ditemuinya kedalam sebuah karya atau apresiasi, Liga Musik Bawah Tanah seolah-olah mengingatkan kita bahwa musik bukan sekedar jualan lagu atau konser tapi juga kesenangan dan kebebasan berkarya. Album mereka bisa diunduh dan didengarkan melalui Bandcamp player di bawah, atau unduh langsung di sini. Maju terus musik Indonesia!

Connect with Liga Musisi Bawah Tanah Bandcamp | Twitter

Summer Camp – Life

Summer Camp

Multi instrumentalist Jeremy Warmsley and vocalist Elizabeth Sankey are returning with a new EP this summer, Summer Camp‘s first release since last year’s debut album Welcome To Condale. Track below titled Life, their first single from the EP. Life is sounds more electronic than their previous releases, cultivate their image as a 21st Century Alternative Pop duo. The upcoming EP titled Always, and will hit public on July 10th via Moshi Moshi Records.

Connect with Summer Camp Facebook | Twitter | Last.fm

We Bought A Zoo

Ini adalah sebuah cerita tentang mimpi seorang anak kecil berumur tujuh tahun, hidup di kebun binatang, bersama orang-orang yang menyenangkan sekaligus mencintainya. We Bought A Zoo adalah sebuah dongeng yang diceritakan oleh Cameron Crowe, Matt Damon, Scarlett Johansson, dengan sedikit bantuan dari Sigur Ros di akhir film.

Benjamin Mee adalah seorang jurnalis yang menyukai petualangan, hidupnya berubah ketika ditinggalkan sang istri yang meninggal dunia saat kedua anaknya Dylan berumur 14 dan Rosie 7 tahun. Sebagai seorang ayah yang hidup dari petualangan, yang berarti lebih banyak meluangkan waktu di luar rumah, Benjamin merasa kewalahan mengurusi dua anaknya tersebut, terutama Dylan yang bermasalah dengan interaksi sosialnya di sekolah. Seperti halnya seseorang yang kebingungan karena salah satu pegangan hidupnya menghilang, Benjamin memilih opsi untuk meninggalkan semuanya di belakang dan memulai kehidupan baru di tempat yang berbeda, dengan pekerjaan yang berbeda, bersama orang-orang yang juga berbeda. Enam bulan setelah kematian istrinya, dia memilih untuk berhenti dari pekerjaannya, pindah rumah dan memilih tinggal di sebuah lahan yang sangat luas beserta semua isi dan lingkungannya. Uniknya, Benjamin memilih sebuah kebun binatang sebagai tempat tinggalnya. Yup, they bought a zoo!

Di ‘rumah’ mereka yang baru, keluarga ini bertemu dengan orang-orang yang mengurus kebun binatang itu sebelumnya, salah saunya adalah Kelly Foster sang kepala kebun binatang. Bersama-sama foster dan timnya, Benjamin membangun sebuah kebun binatang yang ditinggal pemiliknya dua tahun ke belakang. Sebuah drama ringan dibentuk, bagaimana membuat kebun binatang yang sudah lama ‘mati’ ini kembali hidup dan menyediakan banyak kesenangan, untuk para pengunjung nantinya, dan yang paling penting adalah untuk Rosie dan Dylan, dua buah hati Benjamin yang merupakan alasan utama kenapa dia memilih tempat tersebut untuk memulai hidup baru.

We Bought A Zoo adalah sebuah drama yang tidak sulit, tapi bukan berarti tidak menyenangkan untuk dinikmati. Film yang diinspirasi oleh keberadaan sebuah kebun binatang yang memenangkan penghargaan terbaik atas bagaimana mereka mengemas kebun binatang (Dartmoor Zoological Park di Devon, Inggris) tersebut adalah sebuah drama keluarga ringan yang saya pikir sangat disarankan untuk anda yang ingin memberikan tayangan hangat untuk keluarga. Satu hal lagi, pada akhir cerita, Crowe yang kita kenal sebagi sutradara yang dekat dengan dunia musik menceritakan keseluruhan cerita dengan musik pengantar dari musik-musik mengagumkan seperti Cinnamon Girl dari Neil Young sampai dengan Holocene dari Bon Iver. Crowe lalu kemudian mengantarkan akhir cerita dengan sangat elegan, menyimpan Hoppípolla di akhir film. Crowe patut diberi banyak kredit untuk melakukan hal tersebut.

Pearl Jam Twenty

Twenty adalah sebuah dokumenter tentang Pearl Jam. Ketika band-band lain berganti personil, terlibat urusan hukum, menjadi miskin karena kebuntuan ide, masalah obat-obatan, dan banyak lagi rintangan khas yang dialami sebuah band yang terlahir di akhir era 80’an, Pearl Jam trus berkarya. Selama dua puluh tahun karir mereka di dunia musik, yang Pearl Jam lakukan adalah bersenang-senang dan membuat orang lain senang.

Diceritakan dua orang pentolan kultur musik Seattle akhir 80’an, Jeff Ament dan Stone Gossard yang dibesarkan – dan ikut membesarkan kultur musik kota tersebut. Bagaimana dua orang tersebut menjadi bagian dari sebuah kultur musik dimana hanya ada belasan band (tidak seperti yang terjadi di Los Angeles, ratusan band ada di kota itu) namun saling mengenal satu sama lain. Dalam kultur seperti inilah Pearl Jam terlahir, di kota Seattle, Washington, band yang setelah keluarnya Jack Irons (digantikan Matt Cameron) sejak 1998 tidak pernah berganti personil, kemudian tumbuh besar dan sangat solid untuk terus hidup selama lebih dari dua puluh tahun. Sampai saat ini, Pearl Jam sudah menelurkan sembilan buah studio album dan delapan buah album live.

Pearl Jam Twenty dibuat oleh seorang penggemar berat rockumentary yang memperkenalkan kita kepada band asal Seattle lainnya Alice in Chains, mendokumentasikan dua legenda musik Elton John dan Leon Russell dalam album duet mereka The Union, dan mengangkat kebesaran Tom Petty ke layar lebar, Cameron Crowe. Crowe menyajikan sebuah tontonan yang sangat apik, dalam dokumenter ini akan kita temui banyak sekali footage-footage yang jarang (atau bahkan tidak pernah) ditampilkan untuk publik. Salah satu yang menarik perhatian adalah tentang kasus sengketa antara mereka dengan sang raja tiket Amerika: Ticketmaster, dalam Twenty kasus ini dibahas cukup gamblang dengan sudut pandang sang artis yang saat itu kalah telak karena kuasa terhadap media dan birokrasi hukum. Cerita hubungan Pearl Jam dengan sang tetangga, Nirvana, juga dikupas dalam dokumenter yang didedikasikan untuk ulang tahun ke-20 mereka ini, sebuah penampilan khusus untuk sang frontman legendaris Kurt Cobain pada tanggal 8 April 1994 (hari dimana Cobain ditemukan meninggal dunia) menunjukan betapa Seattle mempunyai kultur musik yang solid dan pertentangan diantara mereka adalah hasil rekayasa media belaka.

Jeff Ament, Eddie Vedder, Stone Gossard, Mike McCready, dan Matt Cameron adalah lima orang musisi hebat yang patut dijadikan panutan untuk para musisi generasi berikutnya. Dokumenter ini, bisa dijadikan semacam referensi untuk mereka yang ingin mengenal Pearl Jam lebih dalam. Sebagai penggemar musik asal Seattle, Pearl Jam Twenty dan rilis khusus Nevermind edisi dua puluh tahun, adalah sebuah hadiah yang sangat berharga.

It felt like being in the center of the world, and I felt like I was a witness to history and I knew that the whole world was watching on television. So, I could feel the collective consciousness of the world focused on this little strip of land called Seattle. -Krist Novoselic of Nirvana