Irama Rahasia dibalik Videotape-nya Radiohead

Irama yang dibuat Yorke dan kawan-kawan tersebut membutuhkan ke-jeniusan (kalau tidak mau dibilang gila) si pembuat lagu.

Sebetulnya ini bukan klip musik dari sebuah single, melainkan sebuah video yang membahas tentang sebuah lagu. Sebuah lagu dari salah satu band terbaik sepanjang masa, Radiohead.

Di sela-sela istirahat siang kemarin, saya menemukan video ini. Dipublikasikan dalam channel berita dan opini Vox, sebuah lagu berjudul Videotape dibahas dengan gaya semi-akademis namun dengan penyampaian konteks yang tidak rumit, cukup ringan.

Videotape adalah lagu paling bontot dari album In Rainbows yang dirilis tepat 10 tahun bulan Oktober kemarin. Vox mengutip penjabaran Warrenmusic yang membahas keistimewaan lagu tersebut dengan lebih detail dan panjang, Warren menyebutkan bahwa Videotape memiliki irama yang tidak biasa, irama yang mendobrak kebiasaan-kebiasaan para music-maker dalam membuat lagu. Bukan hanya itu, irama yang dibuat Yorke dan kawan-kawan tersebut membutuhkan ke-jeniusan (kalau tidak mau dibilang gila) si pembuat lagu. Karena menurut Vox dan Warren sekaligus, irama yang mereka mainkan itu sulit, dan mereka juga memberikan buktinya.

Lebih lengkapnya lagi, silahkan tonton penjabaran Vox dalam video sepanjang 10 menit di bawah ini:

Bahasan lebih “geek” lagi dalam video Warren sepanjang 30an menit di bawah ini:

California – blink-182

Dibuka dengan Cynical, sebuah lagu yang dimulai dengan santai namun kemudian dilanjutkan dengan beat kencang seperti kebanyakan lagu di Dude Ranch. Lagu kedua adalah Bored to Death, mengingatkan saya akan beberapa lagu di Take Off Your Pants and Jacket. Dua lagu awal memberikan kesan bahwa band yang meluncurkan Cheshire Cat (album studio pertamanya) pada tahun 1995 ini ingin mengajak penggemarnya bernostalgia setelah Neighborhoods (2011) yang dirilis eksklusif hanya di Amerika Serikat gagal merenggut kesuksesan dari sisi penjualan, yang mana memberikan kesan kurang diminati secara kualitas bukan?

California adalah album studio ketujuh blink-182, ini juga merupakan album pertama mereka dengan Matt Skiba (eks-Alkaline Trio) yang berarti formasi baru. Skiba yang aktif sejak Juli 2015 lalu tampak mudah menyesuaikan diri dengan Mark dan Travis, perubahannya malah tidak kentara. Beberapa orang yang sudah lama tidak mendengarkan blink-182 tidak akan merasakan perubahan dalam musik mereka, seperti saya.

California menawarkan lagu-lagu seperti Los Angeles, San Diego dan California yang mendeskripsikan lingkungan di mana mereka besar dan mencari penghidupan selama ini. Menurut Skiba, album ini mendeskripsikan California secara tematis, yang kemudian menjadi dasar pemilihan judul album.

Big and bright and huge and dark and twisted, everything that California is.

Secara keseluruhan, selain menawarkan nostalgia, California juga menggambarkan betapa mereka berusaha keras untuk mempertahankan jati diri band yang lekat dengan anak mudah serta kehidupan sosial di sekitarnya. Lirik-lirik melankolis juga mereka sajikan di sini, Home is Such A Lonely Place, terlepas dari sudut pemahaman masing-masing, memberikan sensasi kesepian seseorang tanpa kehadiran orang yang biasa menyertainya, mengingatkan kita akan Miss You dan I’m Lost Without You dari album self titled mereka blink-182 (2003).

Favorit saya Kings of the Weekend, sebuah lagu yang ceria dengan ketukan naik-turun, knows that Barker still having it! Secara pribadi, saya yang (selalu) merindukan rilisan mereka akan sangat bahagia dengan kehadiran California. Angin segar dari bergabungnya Skiba, produktifitas mereka akan lebih tinggi setelahnya.

California bisa didengarkan di Spotify melalui tautan berikut: blink-182 – California

Berikut adalah klip dari 6/8 yang baru dirilis (bagian dari versi Deluxe album ini). Sebuah lagu yang lebih gelap dari kebanyakan lagu blink-182.

Kishi Bashi – Sonderlust

K. Ishibashi atau lebih dikenal dengan Kishi Bashi merilis album ketiganya akhir September tahun ini. Album berisi 10 track ini diproduseri Kishi Bashi sendiri dan Chris Taylor (produser dan bassist Grizzly Bear).

K, biasa dia disebut, mengungkapkan bahwa album ini terlahir ketika dia berada dalam suatu kondisi yang biasa disebut oleh para musisi sebagai “kebuntuan musik” –masa dimana semua karya yang coba dibuatnya terdengar seperti sebuah ruangan kosong, menguap begitu saja. Dalam situasi psikologis seperti itu, K juga dilanda krisis dalam kehidupan pribadinya. Paska merilis 151a dan Lighght, K memang disibukan dengan tur dan kehidupan laiknya pesohor yang menurut pengakuannya cukup melelahkan dan menyita banyak waktu. Hal tersebut tentu saja memberikan pengaruh besar terhadap keluarganya.

Sonderlust terlahir dari kebuntuan dan patah hati. K menyebut album ini sebagai albumnya yang paling personal dan merangkum perjalanan musikalitasnya selama ini.

This album is straight from my soul. I questioned everything about what it means to love and desire. The difference between loving someone and being in love.

Favorit saya adalah track pembuka, m’lover. Sentuhan ukulele memberikan kesan etnik yang kental pada musiknya. Dilanjut dengan Hey Big Star yang mengajak kita untuk berdansa dengan beat yang ringan. Track ketiga adalah Hey Yeah yang dibuka oleh nuansa chiptunes, mengajak kita bernostalgia ke era 80-an. Track keempat bernuansa new wave/synthpop, Can’t Let Go, Juno judulnya, mengingatkan saya akan New Order, track berikutnya Ode to My Next Life juga tidak jauh beda karakternya dengan track keempat ini.

Sampai dengan track kesepuluh, Honeybody, saya tidak melihat niatan K untuk membuat sebuah album mono-karakter. Sonderlust terdengar seperti sebuah wadah untuk K berimprovisasi secara musikal, kaya penuh kejutan. Walaupun diklaim sebagai album yang terlahir dari konflik pribadi, Sonderlust cukup segar untuk dinikmati di pagi hari bulan Desember yang seringkali muram ini.

Sonderlust bisa didengarkan dan dibeli melalui Bandcamp player di bawah.

Memperkenalkan Charlotte Cardin

Saat blog ini masih aktif, saya sering kali memperkenalkan musisi-musisi asal Kanada. Dua tahun terakhir saya memang tidak mendengarkan banyak musisi baru, sampai Spotify masuk Indonesia. Charlotte Cardin adalah salah satu singer-songwriter Kanada yang saya temukan melalui Spotify.

Memulai karirnya sebagai seorang model, Charlotte ternyata menyukai seni tarik suara sejak kecil berkat sang Ibu yang terus mendorong dia dan kakak perempuannya untuk mengikuti les musik. Dalam wawancaranya dengan MySpace, gadis asal Montreal – Kanada ini mengaku belajar menyanyi sejak umur 8 tahun dan langsung jatuh cinta dengan kesenian ini. Sepuluh tahun Charlotte hanya bernyanyi untuk menyalurkan hobinya saja, sampai dia mengikuti sebuah kompetisi menyanyi La Voix atau The Voice versi Perancis yang juga ditayangkan di Kanada pada tahun 2013 lalu.

Charlotte mengaku banyak sekali pengalaman yang didapat dari mengikuti acara adu bakat tersebut. Dia lantas mulai menulis beberapa lagu dan mulai lebih dalam lagi dalam membuat musiknya sendiri.

 

 

Berbekal pengalaman tersebut, sekembalinya Charlotte ke Kanada jadi titik awalnya untuk mulai menekuni musik sebagai karirnya. Album pertamanya diberi judul Big Boy, dirilis awal tahun 2016 ini. Debut berisi 6 lagu studio dan 2 lagu konser bisa ditemukan di iTunes dan bisa didengarkan melalui Soundcloud player yang saya sertakan dalam post ini juga tentu saja melalui Spotify. Klip terbarunya untuk track Like It Doesn’t Hurt bisa ditonton di akhir post ini.

Selain Like It Doesn’t Hurt yang jadi single andalan sekaligus favorit saya, ada Les échardes yang berbahasa Perancis yang patut dicoba untuk dinikmati. Big Boy juga enak untuk didengarkan. Nuansa Amy Winehouse sedikit terasa dalam karya-karya Charlotte, dalam beberapa kesempatan dia mengutarakan kekagumannya akan sosok Amy.

Blog musik Crack In The Road menyebut Charlotte sebagai most emerging artist of the year dan saya enggan untuk menyangkalnya.

 

Liga Musisi Bawah Tanah

Liga Musisi Bawah Tanah

Liga Musisi Bawah Tanah adalah sekumpulan musisi yang senang sekali bermain musik sambil berkumpul di bawah tanah. Karena tempat asal dan tempat tinggal mereka di bawah tanah, segala sesuatu tentang Liga Musisi Bawah Tanah adalah rahasia. Identitas, siapa-siapa saja yang terlibat, arah dan tujuan mereka, serta banyak hal yang berkaitan dengan mereka sifatnya dirahasiakan. Beruntunglah kita, kerahasiaan mereka tidak berkelanjutan dengan merilis sebuah album rahasia dengan materi yang juga rahasia, sehingga tidak satupun orang yang mengetahuinya, karena kalau saja begitu bakat serta kemampuan mereka bermusik akan menjadi sia-sia.

Inkonsistensi mereka dalam kerahasiaan membawa kita ke tanggal 20 April 2012, dimana Liga Musik Bawah Tanah merilis sebuah album debut berjudul Liga Musik Bawah Tanah secara daring. Album tersebut berisi 9 buah lagu, dimulai dengan track super-absurd berjudul Anjing Lypsinc, sebuah track satu menit yang bercerita tentang.. anjing. Track berikutnya John Lemmon And The Ora Ono Plastic Band adalah track dengan judul paling panjang serta paling menarik perhatian. Acungan jempol untuk judulnya yang berbau parodi, jempol lainnya untuk musik yang disuguhkan.

Sisa album ini adalah musik-musik luar biasa dengan lirik-lirik absurd, bahkan track paling serius mereka Dia Yang Terlupakan mempunyai lirik yang kriptik nan susah dicerna. Musik mereka beragam, saya mendengar Coldplay, Nirvana, The Rolling Stones, sampai dengan musik tunduk ala The Milo dalam album ini. Saya juga mendengar ada pengaruh kental Robby Krieger (The Doors) pada beberapa lagu, bahkan di track Gimbal Sambung yang dibuat seperti reggae sekalipun suara gitar masih terdengar sangat Krieger.

Musik adalah bagaimana seseorang merangkum semua apa yang ditemuinya kedalam sebuah karya atau apresiasi, Liga Musik Bawah Tanah seolah-olah mengingatkan kita bahwa musik bukan sekedar jualan lagu atau konser tapi juga kesenangan dan kebebasan berkarya. Album mereka bisa diunduh dan didengarkan melalui Bandcamp player di bawah, atau unduh langsung di sini. Maju terus musik Indonesia!

Connect with Liga Musisi Bawah Tanah Bandcamp | Twitter

Summer Camp – Life

Summer Camp

Multi instrumentalist Jeremy Warmsley and vocalist Elizabeth Sankey are returning with a new EP this summer, Summer Camp‘s first release since last year’s debut album Welcome To Condale. Track below titled Life, their first single from the EP. Life is sounds more electronic than their previous releases, cultivate their image as a 21st Century Alternative Pop duo. The upcoming EP titled Always, and will hit public on July 10th via Moshi Moshi Records.

Connect with Summer Camp Facebook | Twitter | Last.fm

We Bought A Zoo

Ini adalah sebuah cerita tentang mimpi seorang anak kecil berumur tujuh tahun, hidup di kebun binatang, bersama orang-orang yang menyenangkan sekaligus mencintainya. We Bought A Zoo adalah sebuah dongeng yang diceritakan oleh Cameron Crowe, Matt Damon, Scarlett Johansson, dengan sedikit bantuan dari Sigur Ros di akhir film.

Benjamin Mee adalah seorang jurnalis yang menyukai petualangan, hidupnya berubah ketika ditinggalkan sang istri yang meninggal dunia saat kedua anaknya Dylan berumur 14 dan Rosie 7 tahun. Sebagai seorang ayah yang hidup dari petualangan, yang berarti lebih banyak meluangkan waktu di luar rumah, Benjamin merasa kewalahan mengurusi dua anaknya tersebut, terutama Dylan yang bermasalah dengan interaksi sosialnya di sekolah. Seperti halnya seseorang yang kebingungan karena salah satu pegangan hidupnya menghilang, Benjamin memilih opsi untuk meninggalkan semuanya di belakang dan memulai kehidupan baru di tempat yang berbeda, dengan pekerjaan yang berbeda, bersama orang-orang yang juga berbeda. Enam bulan setelah kematian istrinya, dia memilih untuk berhenti dari pekerjaannya, pindah rumah dan memilih tinggal di sebuah lahan yang sangat luas beserta semua isi dan lingkungannya. Uniknya, Benjamin memilih sebuah kebun binatang sebagai tempat tinggalnya. Yup, they bought a zoo!

Di ‘rumah’ mereka yang baru, keluarga ini bertemu dengan orang-orang yang mengurus kebun binatang itu sebelumnya, salah saunya adalah Kelly Foster sang kepala kebun binatang. Bersama-sama foster dan timnya, Benjamin membangun sebuah kebun binatang yang ditinggal pemiliknya dua tahun ke belakang. Sebuah drama ringan dibentuk, bagaimana membuat kebun binatang yang sudah lama ‘mati’ ini kembali hidup dan menyediakan banyak kesenangan, untuk para pengunjung nantinya, dan yang paling penting adalah untuk Rosie dan Dylan, dua buah hati Benjamin yang merupakan alasan utama kenapa dia memilih tempat tersebut untuk memulai hidup baru.

We Bought A Zoo adalah sebuah drama yang tidak sulit, tapi bukan berarti tidak menyenangkan untuk dinikmati. Film yang diinspirasi oleh keberadaan sebuah kebun binatang yang memenangkan penghargaan terbaik atas bagaimana mereka mengemas kebun binatang (Dartmoor Zoological Park di Devon, Inggris) tersebut adalah sebuah drama keluarga ringan yang saya pikir sangat disarankan untuk anda yang ingin memberikan tayangan hangat untuk keluarga. Satu hal lagi, pada akhir cerita, Crowe yang kita kenal sebagi sutradara yang dekat dengan dunia musik menceritakan keseluruhan cerita dengan musik pengantar dari musik-musik mengagumkan seperti Cinnamon Girl dari Neil Young sampai dengan Holocene dari Bon Iver. Crowe lalu kemudian mengantarkan akhir cerita dengan sangat elegan, menyimpan Hoppípolla di akhir film. Crowe patut diberi banyak kredit untuk melakukan hal tersebut.