We Bought A Zoo

Ini adalah sebuah cerita tentang mimpi seorang anak kecil berumur tujuh tahun, hidup di kebun binatang, bersama orang-orang yang menyenangkan sekaligus mencintainya. We Bought A Zoo adalah sebuah dongeng yang diceritakan oleh Cameron Crowe, Matt Damon, Scarlett Johansson, dengan sedikit bantuan dari Sigur Ros di akhir film.

Benjamin Mee adalah seorang jurnalis yang menyukai petualangan, hidupnya berubah ketika ditinggalkan sang istri yang meninggal dunia saat kedua anaknya Dylan berumur 14 dan Rosie 7 tahun. Sebagai seorang ayah yang hidup dari petualangan, yang berarti lebih banyak meluangkan waktu di luar rumah, Benjamin merasa kewalahan mengurusi dua anaknya tersebut, terutama Dylan yang bermasalah dengan interaksi sosialnya di sekolah. Seperti halnya seseorang yang kebingungan karena salah satu pegangan hidupnya menghilang, Benjamin memilih opsi untuk meninggalkan semuanya di belakang dan memulai kehidupan baru di tempat yang berbeda, dengan pekerjaan yang berbeda, bersama orang-orang yang juga berbeda. Enam bulan setelah kematian istrinya, dia memilih untuk berhenti dari pekerjaannya, pindah rumah dan memilih tinggal di sebuah lahan yang sangat luas beserta semua isi dan lingkungannya. Uniknya, Benjamin memilih sebuah kebun binatang sebagai tempat tinggalnya. Yup, they bought a zoo!

Di ‘rumah’ mereka yang baru, keluarga ini bertemu dengan orang-orang yang mengurus kebun binatang itu sebelumnya, salah saunya adalah Kelly Foster sang kepala kebun binatang. Bersama-sama foster dan timnya, Benjamin membangun sebuah kebun binatang yang ditinggal pemiliknya dua tahun ke belakang. Sebuah drama ringan dibentuk, bagaimana membuat kebun binatang yang sudah lama ‘mati’ ini kembali hidup dan menyediakan banyak kesenangan, untuk para pengunjung nantinya, dan yang paling penting adalah untuk Rosie dan Dylan, dua buah hati Benjamin yang merupakan alasan utama kenapa dia memilih tempat tersebut untuk memulai hidup baru.

We Bought A Zoo adalah sebuah drama yang tidak sulit, tapi bukan berarti tidak menyenangkan untuk dinikmati. Film yang diinspirasi oleh keberadaan sebuah kebun binatang yang memenangkan penghargaan terbaik atas bagaimana mereka mengemas kebun binatang (Dartmoor Zoological Park di Devon, Inggris) tersebut adalah sebuah drama keluarga ringan yang saya pikir sangat disarankan untuk anda yang ingin memberikan tayangan hangat untuk keluarga. Satu hal lagi, pada akhir cerita, Crowe yang kita kenal sebagi sutradara yang dekat dengan dunia musik menceritakan keseluruhan cerita dengan musik pengantar dari musik-musik mengagumkan seperti Cinnamon Girl dari Neil Young sampai dengan Holocene dari Bon Iver. Crowe lalu kemudian mengantarkan akhir cerita dengan sangat elegan, menyimpan Hoppípolla di akhir film. Crowe patut diberi banyak kredit untuk melakukan hal tersebut.

Pearl Jam Twenty

Twenty adalah sebuah dokumenter tentang Pearl Jam. Ketika band-band lain berganti personil, terlibat urusan hukum, menjadi miskin karena kebuntuan ide, masalah obat-obatan, dan banyak lagi rintangan khas yang dialami sebuah band yang terlahir di akhir era 80’an, Pearl Jam trus berkarya. Selama dua puluh tahun karir mereka di dunia musik, yang Pearl Jam lakukan adalah bersenang-senang dan membuat orang lain senang.

Diceritakan dua orang pentolan kultur musik Seattle akhir 80’an, Jeff Ament dan Stone Gossard yang dibesarkan – dan ikut membesarkan kultur musik kota tersebut. Bagaimana dua orang tersebut menjadi bagian dari sebuah kultur musik dimana hanya ada belasan band (tidak seperti yang terjadi di Los Angeles, ratusan band ada di kota itu) namun saling mengenal satu sama lain. Dalam kultur seperti inilah Pearl Jam terlahir, di kota Seattle, Washington, band yang setelah keluarnya Jack Irons (digantikan Matt Cameron) sejak 1998 tidak pernah berganti personil, kemudian tumbuh besar dan sangat solid untuk terus hidup selama lebih dari dua puluh tahun. Sampai saat ini, Pearl Jam sudah menelurkan sembilan buah studio album dan delapan buah album live.

Pearl Jam Twenty dibuat oleh seorang penggemar berat rockumentary yang memperkenalkan kita kepada band asal Seattle lainnya Alice in Chains, mendokumentasikan dua legenda musik Elton John dan Leon Russell dalam album duet mereka The Union, dan mengangkat kebesaran Tom Petty ke layar lebar, Cameron Crowe. Crowe menyajikan sebuah tontonan yang sangat apik, dalam dokumenter ini akan kita temui banyak sekali footage-footage yang jarang (atau bahkan tidak pernah) ditampilkan untuk publik. Salah satu yang menarik perhatian adalah tentang kasus sengketa antara mereka dengan sang raja tiket Amerika: Ticketmaster, dalam Twenty kasus ini dibahas cukup gamblang dengan sudut pandang sang artis yang saat itu kalah telak karena kuasa terhadap media dan birokrasi hukum. Cerita hubungan Pearl Jam dengan sang tetangga, Nirvana, juga dikupas dalam dokumenter yang didedikasikan untuk ulang tahun ke-20 mereka ini, sebuah penampilan khusus untuk sang frontman legendaris Kurt Cobain pada tanggal 8 April 1994 (hari dimana Cobain ditemukan meninggal dunia) menunjukan betapa Seattle mempunyai kultur musik yang solid dan pertentangan diantara mereka adalah hasil rekayasa media belaka.

Jeff Ament, Eddie Vedder, Stone Gossard, Mike McCready, dan Matt Cameron adalah lima orang musisi hebat yang patut dijadikan panutan untuk para musisi generasi berikutnya. Dokumenter ini, bisa dijadikan semacam referensi untuk mereka yang ingin mengenal Pearl Jam lebih dalam. Sebagai penggemar musik asal Seattle, Pearl Jam Twenty dan rilis khusus Nevermind edisi dua puluh tahun, adalah sebuah hadiah yang sangat berharga.

It felt like being in the center of the world, and I felt like I was a witness to history and I knew that the whole world was watching on television. So, I could feel the collective consciousness of the world focused on this little strip of land called Seattle. -Krist Novoselic of Nirvana

Terry

Pada musim panas 2009 lalu, seorang mahasiswa sekolah film bernama Charlie Ruez membuat sebuah dokumenter tentang seorang berandalan (thug) bernama Terry. Tidak lama setelah itu, dokumenter tersebut dijadikan bukti dalam serangkaian kasus kejahatan jalanan oleh kepolisian London. Terry, adalah bagaimana semua hal itu bisa terjadi.

Sedikit mengingatkan saya akan The Blair Witch Project, dimana satu kamera menceritakan keseluruhan film dari awal sampai akhir, mengikuti tokoh utama dan semua hal yang dia lakukan. Hanya saja, kali ini kita tidak disuguhkan ‘gambar hantu yang tidak ada’ melainkan sebuah keseharian seorang berandalan yang memakai obat-obatan, menghisap ganja, minum minuman keras, berhubungan seks, menghancurkan sebuah pesta, dan sesuatu seperti memukul kepala orang dengan botol bir. Terry, adalah sebuah dokumenter yang penuh kekerasan di sana-sini. Ruez dengan elegan membimbing kita untuk melihat sudut lain kota London, sesuatu yang ditemui beberapa orang London dalam kesehariannya.

Cerita seperti ini pernah kita temui dalam sebuah cult karya Danny Boyle, Trainspotting (1996). Penggambaran tentang keseharian seseorang yang dicap ‘sampah’ oleh sebagian lingkungannya namun sekaligus dianggap ‘guru’ oleh sebagian lainnya. Sampai pada akhirnya kita mengerti, semua yang dilakukan Terry (dan Renton di Trainspotting) adalah sesuatu yang menjadi semacam ‘keharusan’ untuk bertahan hidup atau setidaknya mendapatkan rasa hormat dari lingkungan sekitarnya.

Pun ini adalah sebuah fiksi dari non-fiksi, sebuah dokumenter yang tidak nyata, sutradara-penulis sekaligus aktor dari film ini, Nick Nevern, berhasil menebarkan ketegangan khas dokumenter di sepanjang film. Nevern kita kenal konsisten ikut ambil bagian dalam film-film tentang kehidupan kota London kelas menengah ke bawah, baik itu dalam film pendek, film lepas maupun serial yang tayang di Inggris sana, satu film Nevern lain yang akan tayang 2012 ini berjudul White Collar Hooligan juga mengambil tema yang hampir mirip dengan Terry.

The Artist

Yes, it’s the silent film that simply wowed every cinema audience in this digital era. Michael Hanazavicius, sang sutradara, rupanya tertantang untuk menyajikan format tontonan klasik ini menanggapi  fenomena penonton bioskop yang kini lebih suka menatap layar telepon selularnya daripada memperhatikan film yang sedang diputar. Dengan kembali ke film bisu dan meniadakan fitur audio, mau tidak mau penonton harus fokus pada layar untuk dapat memahami jalan cerita.  Ah! How true 😀

Mengambil setting tahun 1927, Hanazavicius  juga nampaknya ‘sengaja’ menerjemahkan premis tersebut  ke dalam kegundahan seorang aktor film bisu yang tergeser kemajuan zaman. George Valentine (Jean Dujardin) adalah seorang aktor tampan nan perlente yang cukup ternama di zamannya. Semua film (bisu, tentu saja) selalu mencetak hit dan ia juga digilai banyak penggemar wanita. Di sisi lain, ada Peppy Miller (Berenice Bejo), gadis muda berbakat yang sedang menapaki mimpinya untuk menjadi artis terkenal. Kesempatan kemudian mempertemukan mereka berdua, dan tidak terelakkan ada percikan ketertarikan antara George dan Peppy, walaupun George dikisahkan sudah beristri. Seiring kisah ini bergulir, jalan hidup mereka berdua akan berubah seketika, di tengah transisi dunia perfilman menuju film bersuara.

‘Dialogue is very efficient, but my belief is, to say the important things, you don’t use dialogue’  

(Michael Hanazavicus)

Dengan bermodalkan gestur tubuh para aktor/aktris, scoring musik menawan dari Ludovic Borce dan hanya beberapa dialog tertulis, The Artist sungguh mampu   menarik  empati penonton dengan sajian visual yang sangat cantik dari karakter-karakter yang juga tidak kalah memikatnya. Untuk  memerankan Peppy Miller si aktris muda yang riang nan genit, tentunya tidak cukup hanya bermodalkan paras jelita saja. Berenice Bejo secara natural berhasil membuat Peppy memancarkan kualitas seorang Hollywood’s SweetheartJadi penasaran bagaimana perjuangan tim kastingnya hingga sukses menemukan aktor-aktris utama yang mempunyai pesona klasik seperti Jean Dujardin dan Berenice Bejo ini 😀 Selain dua talenta berbakat ini, juga hadir nama-nama yang sudah tidak asing; John Goodman, Missi Pyle, James Cromwell hingga cameo dari Malcom McDowell.

Sebagaimana khasnya film bisu, berbagai elemen akan dapat ditemukan di sini: drama, musikal, romansa, komedi dan tentu saja tragedi. Salah satu tokoh yang mencuri perhatian tidak lain adalah anjing milik George, yang selalu sukses menyegarkan suasana dengan berbagai aksinya. Hanazavicius sengaja memberi perhatian khusus pada tokoh anjing Terrier  jenaka ini untuk menyeimbangkan karakter George yang digambarkan cenderung egosentris. Film bisu sesungguhnya mengembalikan kontrol sepenuhnya kepada penonton, dengan menggugah penonton untuk membentuk interpretasinya sendiri dari komposisi detil yang sudah disusun sedemikian rupa. In silent film, every move and detail tells their own story. Bukti lain dari keseriusan Hanazavicius menggarap format film ini antara lain dalam aplikasi teknologi yang digunakan dalam film ini; di mana teknik zoom-shot  yang merupakan teknik paling standar dalam film bahkan tidak dipakai. Kenapa? jawabannya cukup sederhana; karena pada zaman tersebut (1920an), teknologi tersebut belum ditemukan 😀

 

100 menit menyaksikan film layar lebar tanpa dialog memberikan pengalaman unik tersendiri. Apakah film bisu akan menjadi ‘trend’ setelah kesuksesan The Artist? Not necessarilybut one thing for sure; The Artist will reminds us why we fell in love with motion picture in the first place 🙂 

Simak juga interview singkat dengan Michael Hanazavicius yang dibuat oleh Joe LaMattina di sini

Hugo

Mediocre, oui monsieur Scorsese? –

Based on “The Invention of Hugo Cabret” a historical fiction book written and illustrated by Brian Selznick. Swooping from the sky through tumbling snowflakes, clouds of steam and crowds of travelers, Scorsese‘s camera whooshes joyfully through a labyrinth of ladders, shafts, cranks and cogs enchant our eyes into pleasure. Hugo’s exuberant opening shot glimmers at the very beginning of an adventure.

Hugo Cabret (Asa Butterfield) is an orphan who lives in the walls of a busy Paris train station where he works as a clock keeper. His father (Jude Law) inherited an automaton, a mechanical man who is supposed to write with a pen. Convinced the automaton contains a message from his father, Hugo goes to desperate lengths to fix it but he is still missing one mysterious part. Alongside came Isabelle (Chloë Grace Moretz) an orphan who lives with George Méliès (Ben Kingsley) an old man with a sour attitude. He runs a small toy booth in the train station.

After treated to a beautifully captivating opening, the film finally gets where it’s going. We see how Méliès took movies to the moon and back in 1902, how silent cinema’s filmmakers were magicians who can still make us smile and gasp, and how precious things are lost between the grinding gears of technology and time. But yet after the story gets deeper somehow you’ll see a gap around the story, and slowly you’ll be disappointed. While it was fine from a technical standpoint, the story was completely confounding.

The director are too focused on the visuals that the story and characters get left behind. The linkages between characters are lifeless and stiff, the dialogue are constrained to look poetic, and the plot is so slow moving that it trips over itself. It’s so superfluous that it loses it’s meaning and impact. Sadly, Scorsese aren’t quite enough to make this adaptation of Selznick’s novel as a wholly satisfying experience. Truly mediocre, what a shame.

Nevertheless, the film won the 84th Academy Awards for Best Cinematography, Best Art Direction, Best Visual Effects, Best Sound Editing, and Best Sound Mixing. In 2012 BAFTA Awards the film won Best Sound and Best Production Design. In the 69th Golden Globe Awards Scorsese won Best Director.

The First Grader

Pada tahun 2003, seorang kakek berkebangsaan Kenya, Kimani Ng’ang’a Maruge, telah mencatat rekor pada Guiness Book sebagai orang tertua (84 tahun) yang mendaftar masuk sekolah dasar. Dibuatlah sebuah film berdasarkan kisah inspirasional ini pada tahun 2010, dengan kerjasama BBC Films serta sutradara Justin Chadwick yang sebelumnya menggarap ‘The Other Boleyn Girl’ (2008)

The First Grader mengajak kita menyoroti Kenya era post-kolonial dimana Pemerintah Kenya saat itu menjanjikan pendidikan dasar cuma-cuma bagi semua. Hal ini tentu disambut gembira oleh warga, tidak terkecuali warga sebuah desa di salah satu daerah terpencil Kenya. Satu-satunya sekolah dasar yang terdekat dengan desa tersebut sempat kewalahan menghadapi serbuan orangtua yang mendaftarkan anak-anaknya untuk sekolah. Situasi semakin pelik ketika satu sosok kakek tua bernama Kimani Maruge secara mengejutkan mengemukakan keinginannya untuk ikut mendaftar.

Maruge sendiri buta huruf karena sepanjang hidupnya tidak sempat mengenyam pendidikan apapun sejak kecil diakibatkan tidak adanya biaya. Ia adalah keturunan suku Kikuyu yang pada tahun 1950an mencetuskan Pemberontakan Mau-Mau, di mana ia tergabung dalam kelompok pemberontak anti kolonial yang menentang militer pemerintah Inggris yang saat itu menduduki Kenya.

Menanggapi hal ini, pihak sekolah sempat mencemooh dan mengusir Maruge dengan alasan umurnya toh sudah tidak lama lagi sedangkan masih banyak anak-anak yang bahkan belum mendapat jatah bangku. Siap-siap menitikkan air mata menyaksikan kegigihan Maruge agar bisa diterima bersekolah. Siapa yang tega melihat sosok ringkih seorang kakek yang berjalan tanpa alas kaki dan ditompa oleh tongkat, harus menempuh jarak pulang pergi yang tidak bisa dibilang dekat, hanya untuk sekedar belajar alfabet?

Di balik keinginan Maruge untuk belajar baca tulis, sebetulnya ada satu alasan yang bisa dibilang sangat sederhana. Ia memiliki sebuah surat yang disimpannya sejak lama, dan ia ingin dapat membacanya sendiri, tanpa dibacakan orang lain.

Rupanya hal tersebut mengetuk hati Jane Obinchu (Naomie Harris), kepala sekolah di SD tersebut. Walau sempat ditentang oleh beberapa guru, Jane akhirnya mengizinkan Maruge untuk menjadi salah satu murid bersama anak-anak lainnya. Perjuangan Maruge dan Jane rupanya tidak berhenti sampai disitu, karena kehadirannya di SD tersebut menarik perhatian berbagai pihak mulai dari media hingga rasa iri warga desa. Masalah demi masalah mulai membayangi Maruge dan Jane, dari isu yang berangkat dari konflik etnis hingga kepentingan politis.

Sebuah kutipan dari psikolog & filsuf Erich Fromm mengatakan,

Why should society feel responsible only for the education of children, and not for the education of all adults of every age?

Pertanyaan ini cukup menggambarkan kisah dari Maruge dan bagaimana akses pendidikan seharusnya menjadi hak setiap orang tanpa pandang umur. The First Grader juga menceritakan betapa birokrasi yang kaku menyulitkan para guru di lapangan untuk dapat memberikan sarana pendidikan terbaik bagi para muridnya. Pengembangan karakter Maruge dibentuk dari beberapa flashback masa lalunya, di antaranya saat ia kehilangan keluarganya secara tragis saat pemberontakan, dan saat ia harus menjalani berbagai siksaan saat disekap di kamp konsentrasi militer Inggris.

Yang menarik adalah, walaupun film ini menggambarkan kekejaman militer Inggris saat pendudukan dulu, fakta bahwa sutradara adalah orang Inggris serta mendapat dukungan dari BBC dan UK Film Council Lottery Fund cukup membuat saya angkat topi. Chadwick sendiri dalam production notes mengatakan bahwa ia memang ingin memberikan gambaran akan sisi lain dari pemberontakan Mau-Mau yang selama ini lekat dengan stigma kejam dan barbar, dan tidak ada yang cukup perduli pada apa yang sebetulnya terjadi saat itu. Pada kenyataannya, pemberontakan tersebutlah yang justru mengantarkan Kenya pada kemerdekaan dari penjajahan kolonial.

Film ini akan membuat orang yang telah menyia-nyiakan pendidikan (dan yang mempersulit akses pendidikan) tertunduk malu. Maruge telah membuktikan bahwa one is never too old to learn 🙂 Empat jempol untuk akting Oliver Litondo sebagai Maruge dan aktris Inggris Naomie Harris!

Sang tokoh asli telah tutup usia tahun 2009 lalu, setelah sebelumnya sempat berangkat ke United Nations Millenium Development Summit tahun 2005 untuk berbicara mengenai pentingnya pendidikan dasar.

The First Grader is a heartwrenching true story which defines what inspirational truly means 

Clint Eastwood

Clinton “Clint” Eastwood, Jr. was born May 31, 1930 in San Francisco, California. His family relocated often as his father worked at different jobs along the West Coast, including at a pulp mill. As his family moved to different areas he held a series of jobs including lifeguard, paper carrier, grocery clerk, forest firefighter, and golf caddy.

Eastwood is an American film actor, director, producer, and composer. After beginning his acting career exclusively with small uncredited film roles and television appearances, his career has spanned more than 50 years. Eastwood started directing in 1971, and in 1982, his debut as a producer began with two films, Firefox and Honkytonk Man. Eastwood has received multiple accolades and many award nominations for his greatness work in the films Letters From Iwo Jima, UnforgivenMystic River, Changeling, White Hunter Black HeartBirdPale RiderInvictus, Flags of Our Fathers, and Million Dollar Baby.

And for the outstanding dedication to the film industry, especially as a director. These are the top 5 list of Clint Eastwood Films.

5. Invictus (2009)

The story is based on the John Carlin book Playing the Enemy: Nelson Mandela and the Game That Changed a Nation about the events in South Africa before and during the 1995 Rugby World Cup, hosted in that country following the dismantling of apartheid.

The Plot: In 1994 Nelson Mandela (Morgan Freeman) subsequently elected for the President of South Africa. His immediate challenge is “balancing black aspirations with white fears”, as racial tensions from the apartheid era have not completely disappeared.

While Mandela attempts to tackle the country’s largest problems, he attends a game of the Springboks, the country’s rugby union team. Mandela recognizes that the blacks in the stadium cheer against their home squad, as the Springboks represent prejudice and apartheid in their minds. Knowing that South Africa is set to host the 1995 Rugby World Cup, Mandela convinces a meeting of the newly-black-dominated South African Sports Committee to support the Springboks. He then meets with the captain of the Springboks rugby team, François Pienaar (Matt Damon), and implies that a Springboks victory in the World Cup will make a change and inspire the nation.

Despite the astonishing cast, Eastwood brings us accurate portrayal with surprising details and the solid script with tight story-line combined with great cultural impressions and strong emotion. As for that matters, Eastwood has nominated for Best Director in the 67th Golden Globe Awards.

 

4. Letters from Iwo Jima (2006)

The film is based on the non-fiction books “Gyokusai sōshikikan” no etegami (“Picture letters from the Commander in Chief”) by General Tadamichi Kuribayashi and So Sad To Fall In Battle: An Account of War by Kumiko Kakehashi about the Battle of Iwo Jima. While some characters such as Saigo are fictional, the overall battle as well as several of the commanders are based upon actual people and events.

The Plot: In 2005, Japanese archaeologists explore tunnels on Iwo Jima, where they find something burried in the dirt. General Tadamichi Kuribayashi (Ken Watanabe) assigned in Iwo Jima to take command of the garrison and defended it from Americans. And afterwards he immediately begins an inspection of the island defenses. The next day, Kuribayashi orders the garrison to begin tunneling defenses under Mount Suribachi. He explains that the United States military will take the beaches quickly, and that only subterranean defenses have a chance for holding out.

After the defenses are completely built, the war has occurred and the American strikes them really hard and causing significant casualties for the Japanese Army. Inevitably, fears and despair affects them and also clouded their judgement.

Written by Paul Haggis, the film shows a portrayal of good and evil on both sides of the war. In addition, after released in U.S the film critics heavily praised the writing, direction, cinematography and acting. The review tallying website Rotten Tomatoes reported that 178 out of the 195 reviews they tallied were positive for a score of 91%. As the positive affirmation that achieved, the film won the 79th Academy Awards for Best Sound Editing, and won the 64th Golden Globe Awards for Best Foreign Language Film. This film is also nominated for Best Director and Best Picture in the 79th Academy Awards. And again Eastwood nominated in the 64th Golden Globe Awards for Best Director.

 

3. Gran Torino (2008)

The Film was directed by Eastwood and written by Nick Schenk. In the early 1990s, Schenk became acquainted with the history and culture of the Hmong while working in a factory in Minnesota. Years later, he was deciding how to develop a story involving a widowed Korean War veteran trying to handle the changes in his neighborhood when he decided to place a Hmong family next door and create a culture clash.

The film directed, produced , and played by Eastwood, the film marks Eastwood’s return to a lead acting role after several years, and yet he still unbelievably astonishing.

The Plot: Walt Kowalski (Eastwood), a grumpy, obnoxious, self centered Korean War US Army veteran, has recently been widowed. His neighborhood is now dominated by poor Asian immigrants, and gang violence. Walt’s young Hmong neighbor Thao (Bee Vang), is pressured by his cousin to steal Walt’s 1972 Gran Torino for his initiation into a gang. Walt then develops a relationship with the boy and his family after that shameful incident. The gang continues to intimidate and assault Thao. Later on, a horrifying atrocity afflicts Tao and his sister Sue (Ahney Her).

I describe it as a humble insurgent, deceptively mediocre in appearance and daring in its earnestness. Unfortunately the film didn’t work quite well with the film critics. But yet the film nominated for Best Original Song in the 66th Golden Globe Awards performed by Jamie Cullum.

 

2. Mystic River (2003)

The film based on novel Mystic River by Dennis Lehane. Directed by Clint Eastwood, the mysterious drama Mystic River adapted by screenwriter Brian Helgeland. Set in an Irish neighborhood in Boston, Jimmy, Sean, and Dave are three childhood friends who are reunited after a brutal murder takes place.

The Plot: Three boys, Jimmy Markum (Sean Penn), Sean Devine (Kevin Bacon) and Dave Boyle (Tim Robbins), play hockey in a Boston street in 1975. And the, terrifying moments occurred.

Twenty-five years later, Jimmy running a neighborhood store, while Dave is a middle-class worker, still haunted by his abduction. They’re still neighbors and related by marriage. Jimmy’s 19-year-old daughter Katie (Emmy Rossum) is secretly dating Brendan Harris (Tom Guiry), a boy Jimmy despises. Reformed convict Jimmy and his devoted wife Annabeth (Laura Linney) find out that their daughter Katie  has been beaten and killed. Jimmy’s old friend Sean is the homicide detective assigned to the case, along with partner Whitey Powers (Laurence Fishburne). Jimmy also gets his relatives to conduct an investigation of their own.

It’s exhilarating, to see strong acting like this, Eastwood directs it with an invigorated beauty and charms. It is important to remember that films can look and listen and attentively sympathize with their characters. With a pair of his green thumb Eastwood grow great by fertilize and cultivates, And now the seeds has growing properly with its beauty.

Eastwood nominated for Best Director and Best Screenplay in the 76th Academy Awards, as it does Penn and Robbins who have won the Best Actor in a Leading Role and Best Actor In a Supporting Role. In 2004 BAFTA Awards the film nominated for Best Performance by an Actor in a Leading Role, Best Performance by an Actor in a Supporting Role, Best Performance by an Actress in a Supporting Role, and Best Screenplay – Adapted. As in the 56th Cannes Film Festival Eastwood nominated for Palme d’Or and he won the Carrosse d’Or (Golden Coach). In the 61st Golden Globe Awards Penn and Robbins again won Best Actor in a Leading Role and Best Actor In a Supporting Role, as for Eastwood he nominated for Best Director and for Best Motion Picture.

 

1. Millon Dollar Baby (2004)

A 2004 American sports drama film directed, starring, co-produced, and scored by Eastwood. It’s the story of an under-appreciated boxing trainer, his elusive past, and his quest for atonement by helping an underdog amateur boxer achieve her dream of becoming a professional. The is based on short stories by F.X. Toole, the pen name of fight manager and “cutman” Jerry Boyd. Originally published under the title Rope Burns, the stories have since been republished under the film’s title.

The Plot: Margaret “Maggie” Fitzgerald (Hilary Swank), a waitress shows up in the Hit Pit, a run-down Los Angeles gym which is owned and operated by Frankie Dunn (Eastwood), a brilliant but only marginally successful boxing trainer. Maggie asks Dunn to train her, but he angrily responds that he “doesn’t train girls.” And fortunately, after a magnanimous determination Maggie did, Frankie trains her. And together they’re unite  pursuing her ambition to become a professional boxer.

To be honest this is the best film as best as any movie Eastwood has ever directed. The film was stuck in so-called “development hell” for years before it was filmed. Several studios rejected the project even when he signed on as actor and director. This film is a portrait of the entwine stories of life braided with unfairness and uncertainty of reality, and then leaves us with million of poignancy. This is a film that does both the expected and the unexpected, that has the nerve and the will to be as pitiless as it is sentimental. A dashing proportion of poignant story.

After the unpleasant journey struck, the film is actually managed to harvesting the accolades. In 77th Academy Awards the film won Best Picture, Best Director, Best Actress in a Leading Role (Hilary Swank), And Best Actor in a Supporting Role (Morgan Freeman). In 62nd Golden Globe Awards the film won Best Actress (Hilary Swank), and Best Director.