Pearl Jam Twenty

Twenty adalah sebuah dokumenter tentang Pearl Jam. Ketika band-band lain berganti personil, terlibat urusan hukum, menjadi miskin karena kebuntuan ide, masalah obat-obatan, dan banyak lagi rintangan khas yang dialami sebuah band yang terlahir di akhir era 80’an, Pearl Jam trus berkarya. Selama dua puluh tahun karir mereka di dunia musik, yang Pearl Jam lakukan adalah bersenang-senang dan membuat orang lain senang.

Diceritakan dua orang pentolan kultur musik Seattle akhir 80’an, Jeff Ament dan Stone Gossard yang dibesarkan – dan ikut membesarkan kultur musik kota tersebut. Bagaimana dua orang tersebut menjadi bagian dari sebuah kultur musik dimana hanya ada belasan band (tidak seperti yang terjadi di Los Angeles, ratusan band ada di kota itu) namun saling mengenal satu sama lain. Dalam kultur seperti inilah Pearl Jam terlahir, di kota Seattle, Washington, band yang setelah keluarnya Jack Irons (digantikan Matt Cameron) sejak 1998 tidak pernah berganti personil, kemudian tumbuh besar dan sangat solid untuk terus hidup selama lebih dari dua puluh tahun. Sampai saat ini, Pearl Jam sudah menelurkan sembilan buah studio album dan delapan buah album live.

Pearl Jam Twenty dibuat oleh seorang penggemar berat rockumentary yang memperkenalkan kita kepada band asal Seattle lainnya Alice in Chains, mendokumentasikan dua legenda musik Elton John dan Leon Russell dalam album duet mereka The Union, dan mengangkat kebesaran Tom Petty ke layar lebar, Cameron Crowe. Crowe menyajikan sebuah tontonan yang sangat apik, dalam dokumenter ini akan kita temui banyak sekali footage-footage yang jarang (atau bahkan tidak pernah) ditampilkan untuk publik. Salah satu yang menarik perhatian adalah tentang kasus sengketa antara mereka dengan sang raja tiket Amerika: Ticketmaster, dalam Twenty kasus ini dibahas cukup gamblang dengan sudut pandang sang artis yang saat itu kalah telak karena kuasa terhadap media dan birokrasi hukum. Cerita hubungan Pearl Jam dengan sang tetangga, Nirvana, juga dikupas dalam dokumenter yang didedikasikan untuk ulang tahun ke-20 mereka ini, sebuah penampilan khusus untuk sang frontman legendaris Kurt Cobain pada tanggal 8 April 1994 (hari dimana Cobain ditemukan meninggal dunia) menunjukan betapa Seattle mempunyai kultur musik yang solid dan pertentangan diantara mereka adalah hasil rekayasa media belaka.

Jeff Ament, Eddie Vedder, Stone Gossard, Mike McCready, dan Matt Cameron adalah lima orang musisi hebat yang patut dijadikan panutan untuk para musisi generasi berikutnya. Dokumenter ini, bisa dijadikan semacam referensi untuk mereka yang ingin mengenal Pearl Jam lebih dalam. Sebagai penggemar musik asal Seattle, Pearl Jam Twenty dan rilis khusus Nevermind edisi dua puluh tahun, adalah sebuah hadiah yang sangat berharga.

It felt like being in the center of the world, and I felt like I was a witness to history and I knew that the whole world was watching on television. So, I could feel the collective consciousness of the world focused on this little strip of land called Seattle. -Krist Novoselic of Nirvana

Karen O – Stop The Virgens

Karen O of Yeah Yeah Yeahs been hiding something from us, an awesome solo album that never released since it made on 2005. Lucky for us, Karen decided to mount the album into her theatrical project titled Stop The Virgens, the project performed on October last year at St. Ann’s Warehouse, NY. This “psycho opera” was part of the big Creators Project event in New York. Directed by Adam Rapp, Stop The Virgens becoming Karen’s autobiographical journey, she’s putting it all out there in that way. The psycho-opera, produced by The Studio, is an extremely multi-disciplinary and chaotic visual treat as it combines theater with rock music, enhanced with video projections and technology. If you’re ever listen to Yeah Yeah Yeahs’ songs, you probably already guessed about how the project goes.

Another good news for us, the whole process of the project are well documented. The video above is first part of the documentary of how the project was created untill it debuted couple months ago. There are several songs from her unreleased solo, that you will find them very personal for Karen, featured in this docs. There are also couple of interviews with her and the crews, both music making and the opera, and how Karen and the opera project become in their point of views. You can visit this link for the second part. Enjoy!

Karen O - Stop The Virgens

Bowerbirds – The Clearing

The Clearing adalah album keempat dari sebuah band folk asal Raleigh, North Carolina, Bowerbirds. Folk alternatif dari Bowerbirds dihasilkan oleh tiga orang musisi, Philip Moore (vocals, guitar), Beth Powers (accordion, vocals) and Mark Paulson (violin, vocals). Ketiganya mengaku musik mereka sangat terinspirasi oleh para pengusung sunshine-pop seperti Lavender Diamond.

Video di atas adalah sebuah dokumenter sepanjang 6 menit tentang album baru mereka tersebut. Dibuat oleh Creato Destructo, sebagai bahan untu kita “mengintip” materi album mereka nanti. Berisi footage tentang kehidupan sesehari Phil dan Beth yang saling jatuh cinta di country side North Carolina, dan tentu saja wawancara-wawancara tentang bagaimana The Clearing dibuat. Albumnya sendiri akan rilis tanggal 5 bulan depan. Sebuah album yang dibuat oleh dua orang yang sedang jatuh cinta dan satu orang violis kawakan? Oh, saya sangat menunggu album ini. Selamat menikmati.

Upside Down: The Creation Records Story

Upside Down : The Creation record Story sebuah dokumenter epic yang dirilis pada 23 oktober 2010 berdurasi 101 menit. Nama nama cult following seperti Jesus And Mary Chain, My Bloody Valentine, Primal Scream, Ride, Slowdive, hingga Oasis membawa kita lupa seakan tidak berada di tahun sekarang. Di Upside Down menyuguhkan lika liku berbagai kisah sang founder Alan McGee, Dick Green, dan Joe Foster dalam membangun salah satu label independen legendaris di daratan Britania ini. Cerita yang hanya berawal dari tanah Skotlandia pun, sampai akhirnya menuju ke pusat kota London.

Diawali dengan bergabungnya Jesus And Mary Chain bersama kompatriotnya Primal Scream, Creation Records sukses mengguncang tanah Britania, sehingga Creation dianggap sebagai salah satu pelopor label Indie movement dipertengahan era 80’an. Di dokumenter ini juga dijelaskan alasan kenapa Bobby Gillespie memilih hengkang dan bergabung dengan Primal Scream. Sukses dipertengahan era 80’an, Creation juga mengguncang tanah Inggris dengan demam Shoegaze nya. Yak, My Bloody Valentine sebagai suksesor Jesus and Mary Chain mampu menghipnotis semua kalangan kaum muda pada waktu itu. Tapi dibalik cerita manis itu, My Bloody Valentine hampir membuat Creation bangkrut total akibat dari sifat perfeksionis seorang Kevin Shields, dalam pembuatan album kitab para Shoegazer, Loveless. Selain itu, Upside Down menceritakan masa masa dimana Acid House melanda kaum muda dengan Drugs di Inggris. Dan sampai pada akhirnya Creation menempati masa puncaknya bersama Oasis pada album Definitely Maybe yang kemudian membesarkan nama Oasis, serta menjadi awal titik mula movement Britpop pada masa itu. Tidak cukup itu saja, Upside Down juga menyuguhkan kisah kisah band keren di Creation, seperti Ride, Slowdive,Teenage Fanclub, Swervedriver, The House of Love.

Tentunya dokumenter Upside Down : The Creation Records Story akan menjadi “warisan” penting bagi mereka yang menyukai amat teramat Noise, Shoegaze, Britpop. Sangat menarik dialog yang diutarakan oleh sang artis. Creation mengibarkan bendera serta tonggaknya sebagai salah satu Indie movement. Perjalanannya Alan McGee bersama teman temannya di Creation layak diacungi jempol. Upside Down : The Creation Records adalah “warisan” dan “sejarah” penting bagi dunia Alternative sounds.

Blur: No Distance Left To Run

No Distance Left To Run adalah sebuah dokumenter yang dibuat pada musim panas 2009 lalu ketika Blur reuni setelah berpisah selama hampir 7 tahun dan menggelar tour di beberapa kota di Inggris. Blur adalah Britpop, bicara Britpop tentu saja harus bicara Blur, namun di tengah-tengah dokumenter akan kita lihat bagaimana sebutan Britpop itu sangat mempengaruhi band terutama sang gitaris Graham Coxon.

Banyak cerita yang disampaikan dalam dokumenter ini yang belum diketahui publik. Tentu saja mereka bicara sejarah, disusun dalam rangkaian flashback yang diselipkan diantara lagu perlagu selama tur reuni mereka. Bagaimana Damon Albarn memulai Blur, persahabatan yang terjalin di antara keempat personilnya, persahabatan Alex James dengan Graham yang menginspirasinya untuk menulis Bit Of A Blur, sosok personil paling kalem Dave Rowntree, cerita sebenarnya dibalik perseteruan mereka dengan Oasis, dan terutama bagaimana cerita sesungguhnya mengenai perpisahan mereka setelah Think Tank.

 Sajian rutin sebuah dokumenter musik ada di sini, eksploitasi emosi per personil serta drama depresi orang perorang barang tentu jadi bahan jualan. Jangan lupa banyak footage yang tidak pernah dipublish sebelumnya, lantas kalau kalian beruntung menemukan DVDnya, ada tayangan konser terbesar pertama mereka paska reuni di Hyde Park London pada DVD ke 2. Dokumenter ini merupakan sindiran untuk mereka yang menganggap Blur adalah Damon Albarn seorang, juga sebagai jawaban atas penghakiman publik yang memihak antara Oasis dan Blur di pertengahan ’90an lalu. Dokumenter ini koleksi berharga untuk mereka yang merasa terpengaruh oleh Blur serta era ’90an pada umumnya.