Pure Saturday: Lighthouse, Mercusuar Untuk Album Terbaru

5 tahun sudah semenjak Pure Saturday merilis album Time For A Change, Time To Move On, hampir saja Pure Saturday tak menghasilkan sesuatu yang baru. Namun penantian Pure People, sebutan bagi penggemar Pure Saturday, akan karya-karya baru Pure Saturday tak kunjung meredup untuk karya-karya atas band indie legendaris asal kota Bandung tersebut. Akan tetapi penantian para Pure People akan terbayar tampaknya pada tahun 2012 ini. Pure Saturday baru saja merilis single terbaru mereka yang berjudul Lighthouse yang menjadi andalan mereka di album mereka mendatang Grey Album.

Photo taken by M. Reza Pradipto

Lagu Lighthouse ini diakui oleh Pure Saturday sebagai perkawinan atas sound Genesis dan Pure Saturday. Yudhistira “Udhi” Ardinugraha, drummer Pure Saturday, membuat lagu ini ketika dirinya sedang dikuasai oleh lagu-lagu dari Genesis. Untuk sound Pure Saturday masih seperti biasa, yakni dengan petikan dua gitar merdu yang saling mengisi, perubahan ritme yang tak tertebak, melodi vokal yang langsung menempel di kepala, dan lirik yang kontemplatif. “Lagu ini diibaratkan theme song mau memulai hari. Tujuannya jadi penyemangat,” kata bassis Ade Purnama, yang menulis liriknya.

Sedangkan untuk Grey Album sendiri, gitaris Adhitya “Adhi” Ardinugraha membocorkan bahwa album ini akan menjadi album yang paling pop dari Pure Saturday. Beberapa tahun perjalanan mereka belakangan ini dan yang sempat menyaksikan aksi Pure Saturday akhir-akhir ini, dinilai Adhi akan mengetahui letak dimana perbedaan Grey Album dengan album-album sebelumnya. Akan tetapi Satria Nurbambang alias Iyo sang vokalis menilai album ini tak akan membuat Pure People terhenyak. “Kalau kata saya, auranya seperti album Elora. Misalnya khatam album Utopia, kayaknya tidak (kaget). Tidak bakal mempertanyakan itu,” kata Iyo.

Sudah 18 tahun Pure Saturday berkarya dan telah terjadi banyak perubahan. Baik perubahan dengan dunia musik Indonesia ataupun perubahan dalam tubuh internal Pure Saturday sendiri. 18 tahun bukanlah waktu yang sebentar dan perlu sebuah usaha yang besar untuk  menjalankan itu semua. Akan tetapi Pure Saturday tetaplah menjadi Pure Saturday. Sebuah band dengan hasrat yang sama semenjak 1994, hasrat untuk berkarya dan bersenang-senang. Lighthouse menjadi sebuah pembuktian bagaimana Pure Saturday menjalankan hasrat mereka dan sebuah oase bagi kita semua, terutama Pure People yang selalu bersenang-senang bersama Pure Saturday selama 18 tahun ini.

Connect with Pure Saturday Website | Facebook | Twitter | MySpace

Pathetic Waltz: single Waiting Room

Akhir Oktober 2011, dalam sebuah perjalanan sepulang dari Metropolutan dalam gerbong kereta kelas ekonomi. Tercetus ide dari para bujang, Andi Getta Prayudha (Gitar), Julius Didit Setyawan (Lead Gitar/Latar Vokal) dan juga Alta Karka (Vokal/Cajon). Mereka adalah Pathetic Waltz dari Surakarta.

Berbincang-bincang ringan diantara sesak udara panas, suara bising mesin kereta, dan juga lelah dalam paket celoteh pedagang asongan. Ingin menuangkan dalam nada-nada, tentang unsur-unsur kehidupan yang penuh dengan kekonyolan, penuh pertengkaran, basa-basi, kepiluan dan juga keterasingan dari merah muda. Lantas diambillah sebuah nama Pathetic Waltz yang diadopsi dari sebuah judul lagu milik Pure Saturday. (Dari situs Pathetic Waltz)

Desember tahun 2011 lalu, mereka mulai merekam lagu mereka yang pertama, berjudul “Waiting Room” secara home recording dan studio. Seluruhnya dengan cara multitrack dan dikerjakan dalam satu bulan setengah untuk penggarapan dari persiapan materi hingga mixing. Mixingpun dilakukan dengan mandiri dan sederhana di sebuah ruang yang juga sederhana pula.

Ketakutan sederhana dan skill yang apa adanya, dijadikan jalan menuju ruang untuk menuangkan corak warna-warni dunia dalam kanvas Pop. Dengan bilur-bilur nuansa folk, akustik gitar yang sarat akan kesederhanaan dan juga vokal ceria yang menyembunyikan lukanya. (Dari situs Pathetic Waltz)

Distribusi single ini dilakukan melalui media di dunia maya secara independen. Mengingat potensi yang ada sekarang ini, maka Pathetic Waltz juga membuat websitenya sendiri di www.patheticwaltz.com yang diperuntukkan dalam hal menulis dan juga streaming lagu serta update informasi lainnya.

Single ini sendiri bercerita tentang sebuah ruang sapihan dengan segala dekorasinya, yang mana kami bahkan kita semua sebagai manusia menjadi pengisi dalam ruang ini “Tentang ruang dan pengisi ruang. Dalam ruang ini kami berbincang dan minum teh bersama, menyepakati suatu hal tentang sebuah luka, luka yang kami pikir telah menyembunyikan perihnya. Luka yang kami enggan untuk memperdulikannya,” tutur Andi Getta.

Memang menyatakan kejujuran yang paling murni adalah sesuatu hal yang sangat sulit dilakukan. Apalagi kejujuran tersebut terkait tentang keseimbangan antara kebahagiaan dan kepiluan. Keduanya memang saling bertolak belakang seperti dua sisi mata uang. “Namun kita menyadari kedua hal tersebut adalah hal yang tak mungkin dapat kita hindari. Keduanya adalah jurang yang pasti kita temui dalam sebuah perjalanan. Begitu halnya dalam single Waiting Room yang bercerita tentang ruang secara realita,” tambah Julius Didit.

Saat ini, Pathetic Waltz diibaratkan seperti seorang pendaki yang memulai melangkahkan kaki kecilnya dari satu langkah ke langkah yang lain, dari satu dasar ke ketinggian berikutnya. “Tanpa harus kami bahkan kita semua menghamburkan pilu, ada hal yang membahagiakan di setiap sudut ruang tunggu,” imbuh Alta Karka.

Answer Sheet: Duo Ukulele Asal Yogyakarta Yang Mengagumkan

Perkenalan saya dengan Answer Sheet berawal dari sebuah gigs kecil di Kota Solo. Disana mereka menjadi salah satu band pengisi dan mereka sungguh di luar dugaan. Berawal dengan membeli CD mereka karena covernya yang sangat simpel dan harganya yang sangat miring membuat saya sangat penasaran dengan musik yang Answer Sheet Suguhkan. Line-up acara sedari awal bisa dibilang penuh dengan distorsi dan gas hingga kecepatan maksimal. Bising dan penuh dengan kekacauan membuat tensi ruangan menjadi meningkat. Hingga Akhirnya maka sampailah ada Answer Sheet.

Meskipun Solo dan Yogya tak terpaut jarak yang jauh, namun pada malam itu hanya Answer Sheet saja yang datang dari Yogya meramaikan gigs tersebut. Terdiri atas 2 orang personil yakni Ogi dan Karebet kemudian dibantu oleh satu orang pemain tambahan, mereka dengan tenang naik keatas stage dan mulai menyiapkan alat. Sederhana yang alat-alat yang mereka gunakan, yakni dua buah ukulele, satu bass, dan satu keyboard. Ketika tensi penonton sudah panas, tampaknya mereka menjadi Oase di tengah acara tersebut.

Dengan mengedepankan musik Pop yang mereka campurkan dengan sedikit ramuan Folk menjadikan musik mereka sangat santun di telinga namun tetap urakan di dalam otak. Lirik mereka yang cukup lirih yang dipadu padankan dengan petikan ukulele mereka yang catchy membuat sebuah perasaan yang aneh ketika mendengarkan lagu demi lagu yang mereka senandungkan. Musik yang easy listening namun sangat kuat membungkus ingatan dan menghilangkan kepenatan dalam otak yang terjejali berbagai hal selama sepekan ini. Mendengarkan Answer Sheet serasa anda sedang pergi kepantai menikmati deburan ombaknya dan sentuhan angin menerpa kulit.

Bila anda ingin merasakan sensasinya, anda bisa langsung mencari dimana Answer Sheet akan mengantarkan kenikmatannya atau bisa buka di situs mereka di answersheet.co.nr atau sekedar menyapa mereka di Twitter @answer_sheet. Ketika anda sedang suntuk dan membutuhkan sebuah hal yang baru, Answer Sheet bisa memberikan solusi tersebut.

Leonardo Ringo – It’s You

Leonardo Ringo adalah seorang biduan lelaki yang sedang meroket namanya akhir-akhir ini. Sukses dengan album pertamanya, The Sun, tampaknya membawa sebuah angin segar bagi Leonardo dan para penikmat musik di Indonesia. Namun sudah tak terasa hampir 2 tahun sudah album The Sun rilis dan masih menjadi sebuah tanya kapan album selanjutnya keluar.

Untuk menjawab sedikit kegelisaan para penggemarnya, Leonardo membocorkan salah satu lagu yang akan dirilis pada album ke-2 yakni It’s You. Meski lagu ini masih berbentuk demo dan belum selesai seutuhnya namun sentuhan jenius Leonardo sudah sangat terasa. Berbekal Cole Clark dan Iphone miliknya, dia merecord It’s You dengan cukup ciamik. Ditambah suara beratnya yang sexy, sentuhan Blues rock, serta liriknya yang mendalam cukup untuk membuat anda tercengang dan merenung. It’s You sendiri merupakan lagu yang berisikan tentang humanisme. Kesenjangan sosial dalam keseharian menjadi perhatian utama dalam tembang ini.

Sembari menunggu album ke-2 dari seorang Leonardo Ringo, anda bisa mendengarkan lagu ini sejenak sembari menerka bagaimana sound dari album selanjutnya. Akan tetapi masih terdapat sebuah pertanyaan yang mengganjal dalam diri saya, apakah Leonardo akan menelurkan sebuah album trilogy? Ketika album pertama, The Sun, saya berpikir adakah kaitannya dengan perkataan Budha Three things cannot be long hidden: the sun, the moon, and the truth.” Well, Lets it later!

@Leonardoringo | www.leonardoringo.tumblr.com