Livide: Horor Terbaru Duo Sutradara Inside

Karya terbaru dari duo sutradara Inside

Hari itu tanggal 31 Oktober. Lucie (Chloe Colloud), seorang gadis berumur awal 20-an yang belum lama ditinggal mati mendiang ibunya, sedang menjalani hari pertamanya sebagai caretaker bagi orang-orang jompo. Bersama mentornya Mrs. Wilson (Catherine Jacob), mereka berkunjung dari rumah ke rumah memeriksa kondisi kesehatan para manula tersebut.

Rumah paling akhir yang mereka kunjungi hari itu adalah sebuah mansion tua 4 lantai yang terletak di daerah agak terpencil. Mansion yang bagian luarnya dipenuhi oleh sulur-sulur tanaman tersebut dihuni oleh hanya seorang perempuan renta bernama Deborah Jessel (Marie-Claude Pietragalla). Madame Jessel mengalami kondisi koma sehingga harus memperoleh bantuan berupa masker oksigen, selang infus, dan hanya bisa berbaring sepanjang hari di ranjangnya.

Sewaktu masih sehat Madame Jessel adalah seorang penari balet kenamaan yang juga melatih balet di mansionnya yang penuh dengan barang-barang antik seperti guci, buku, gramofon, foto-foto tua, dan berbagai macam hewan pajangan yang sudah dikeringkan.

Secara tak terduga Lucie mendengar informasi dari Mrs. Wilson bahwa Madame Jessel sangat kaya dan kemungkinan besar menyimpan harta karun di salah satu ruangan dalam mansion tersebut.

William (Felix Moati), pacar Lucie, sangat antusias ketika diceritakan tentang hal ini dan spontan mengajak Lucie serta seorang teman, Ben (Jeremy Kapone), untuk menjarah harta di mansion Madame Jessel. Malam itu juga mereka bertiga berangkat menuju ke sana.

Sesampainya di dalam mansion mereka belum sadar bahwa mereka telah membangunkan horor yang tak terbayangkan. Tindakan sembrono yang akan mengubah hidup mereka selamanya.

Sebagai sebuah film, Karya duo Alexandre Bustillo dan Julie Maury sangat menyenangkan buat saya. Seperti masuk ke dalam wahana rumah misteri. Mulai dari opening title, perkenalan para karakter, sampai masuk ke jantung cerita, semuanya berlangsung cepat dan efektif. Scoring-nya juga pas membangun suasana horor.

Di atas semua itu yang paling juara adalah mansion tua bergaya gothic berlantai 4 yang penuh dengan ruangan-ruangan yang sukses menggiring suasana mencekam sepanjang film. Jangan lupa, yang menjadi atraksi utama Livide tentu saja berbagai adegan seram nan ganjil yang berdarah-darah.

Verdict: Horor Perancis ini tontonan wajib bagi yang suka film semacam Pan’s Labyrinth karya Guillermo del Toro.

Salah satu favorit saya di iNAFFF11.

Red State

Belum puas menggedor isu agama lewat film Dogma (1999), kini giliran kaum fundamentalis yang diangkat Kevin Smith sebagai sentral cerita film Red State. Aktor/penulis/sutradara yang sebelumnya dikenal lewat karya komedi seperti Jay and Silent Bob, seri Clerks dan Zack & Miri Make A Porno tanpa ragu memberi label horor pada film yang dipasarkannya secara gerilya ini. Teaser-posternya yang cukup sederhana dengan  sosok putih berdiri di depan salib mungkin membuat banyak orang berpikir film ini bercerita tentang aktivitas exorcism. Namun horor yang dimaksud Kevin ternyata memang jauh lebih nyata, dan tentunya lebih mencekam.

Bayangkan saja, apa yang lebih menyeramkan dibanding sekelompok kaum ekstrimis fundamentalis yang memiliki gudang senjata, menculik dan membunuh orang yang bersebrangan paham dengan mereka? Exactly.

Living in this country with those moronic extrimist such as FPI, i know i can definitely relate. Wouldn’t you?

Kevin Smith jelas terinspirasi dari Westboro Baptist Church, sekte gereja ekstrim yang bahkan di Amerika sendiri sudah dikategorikan ke dalam hate group karena aksi protes mereka yang cukup brutal. Stasiun Televisi Inggris BBC pun pernah membuat seri dokumenter tentang kehidupan salah satu keluarga dari sekte ini yang bertajuk ‘The Most Hated Family in America’ (1997)

Dalam Red State, sekte ekstrimis tersebut bernama Five Point Church yang dikepalai oleh pendeta Abin Cooper (Michael Parks). Kota dimana mereka tinggal sedang diramaikan oleh berita orang hilang serta pembunuhan terhadap remaja gay. Kasus ini menjadi pembicaraan seisi kota, termasuk jadi bahan diskusi kelas di sebuah sekolah. Diperkenalkanlah Travis, Jared dan Billy Ray ke dalam cerita. Tiga orang pemuda ini merupakan penggambaran stereotype remaja tanggung; badung,serba ingin tahu and horny all the time. Tidak heran saat Jared mengaku mendapat undangan untuk melakukan group sex dengan seorang wanita yang ditemuinya lewat internet, mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Tanpa sadar, mereka jatuh ke dalam perangkap yang dipasang oleh aktivis Five Point Church.

Buang jauh-jauh bayangan akan torture sex or some gory scenes seperti film horor/thriller pada umumnyakarena kengerian sesungguhnya terwujudkan bukan dalam adegan banjir darah, namun dalam ceramah penuh kebencian dari pendeta Cooper. Ceramah yang juga disampaikan kepada kaum pengikutnya yang terdiri dari wanita dan anak-anak. Fanaticism is horrifying, indeed.

Pastor Abin Cooper: You’re already dead sinner. You destroyed your spirit in a waste of shame.

Lalu dimana perkembangan plotnya? Yakni saat seorang agen khusus Joseph Keenan (John Goodman) diutus oleh kepala polisi setempat untuk mengepung perumahan milik Five Point Church saat dicurigai adanya aktivitas mencurigakan di dalam gereja mereka. Disinilah Kevin Smith mulai ‘bermain’ dengan dialog-dialog satir yang dipadukan dengan berbagai sentimen politis, adegan baku tembak yang brutal, serta hubungan kekeluargaan yang absurd. Jangan mengharapkan ada tokoh protagonis, apalagi heroic ending. Twist yang ditawarkan menjelang akhir film bahkan bisa dibilang membuat saya….terpingkal. In a good way, that is. 😀

Di luar berbagai kontroversi dan kritik yang melekat pada film yang hanya menghabiskan waktu kurang dari sebulan untuk syuting serta budget yang hanya US$ 4 juta ini, Red State cukup mampu memberikan sentuhan horor yang berbeda. Penggambaran betapa mematikannya doktrin holier than thou’ ini cukup memberikan rasa ngilu dan membuat saya bisa mengatakan persetan dengan rating yang ‘hanya’ 58% dari Rotten Tomatoes. Red State can be so gripping to watch, because the subject (read: religion fanaticism) is real…and it’s near, just around the cornerBe afraid, be very afraid.

Joseph Keenan: People just do the strangest things when they believe they’re entitled. But they do even stranger things when they just plain believe.

 

Rabies

Seperti apakah film horror-thriller pertama Israel ini?

Sejak awal sudah tertarik dengan premis Rabies yang diklaim sebagai film horror-thriller pertama buatan Israel.  Sepasang kakak beradik yang kabur ke cagar alam. Di sana sang adik perempuan terkena  booby trap  seorang psikopat. Sang kakak laki-laki berusaha mencari pertolongan.

Kisah menjadi kusut ketika sepasang suami istri penjaga cagar alam dan Bubba, anjing german shepherd peliharaan mereka, 2 orang polisi, dan  4 orang muda mudi pemain tenis terseret dalam permasalahan ini.

Yang harus digarisbawahi ini bukan tipikal film seperti yang kita perkirakan. Film karya duo sutradara Aharon Keshales (@aharon1keshales) dan Navot Papushado (@navotp) ini menabrak pakem genre horror-thriller-slasher yang berlaku pada umumnya. Dengan berani mereka ‘menghancurkan’ kaidah yang selama ini berlaku pada film-film seperti Friday the 13th, The Texas Chainsaw Massacre. Hasilnya Rabies jadi sebuah film gore dibalut dialog menggelitik di sana sini dengan plot penuh kejutan dan digenapi ending yang tidak biasa.

Dengan formula seperti ini, hampir sepanjang pemutaran film ini di iNAFFF11, terdengar tawa, jeritan, dan sorak penonton. Bisa dibilang Rabies berhasil memicu orgasme berjamaah bagi penggila film horror-thriller-slasher. Oya, yang menarik semua casts memperoleh jatah peran yang seimbang. Jadi bisa dibilang tidak ada pemeran utama.

Kalau bisa dirangkum sepertinya sang filmmaker ingin menyampaikan pesan pada penonton:  “Orang(-orang) yang salah di tempat yang salah pada waktu yang salah”.

Cari film ini.