HellDriver

Masih ingat nggak kalian sama film-film yang berjudul Mutant Girl Squad di salah satu Audi BlitzMegaplex dalam Festival Film Fantastis-INAFF? Kalau kalian tahu judulnya berarti kalian adalah salah satu dari puluhan “Shit Fuck” yang ngelihat sebuah kematian dalam bentuk komedi Srimulat yang ngedampingin gw malam itu. Tahun lalu itu, gw dan orang-orang yg ada di dalam Audi itu bagai seorang manusia tanpa belas kasihan. Gimana nggak gw bilang manusia tanpa belas kasihan, disaat orang justru sedih/ngeri/sakit ngelihat sebuah kematian, kita-kita malah ketawa ngelihat bentuk kematian yang ada di sepanjang 60 menit film itu. Ya, secara tidak langsung, kita itu sebenarnya adalah seorang psikopat.

Tapi sayang, sisi kita sebagai seorang psikopat di INAFFF tahun ini nggak bakalan keluar. Gw musti ngebawa otak dan nalar logika yang biasanya gw simpan di lemari besi setiap nonton film klan Nishimura ini untuk menonton deretan film2 INAFFF 2011 (kecuali untuk HOBO with Shotgun). Padahal gw udah mention twitter-nya INAFFF buat muter dan harus muter film model kayak gini. Entah ape yang bikin panitia nggak muterin film model gini tahun ini. Agak kesel sih awalnye tapi dengan ditemukan DVD bercover HellDriver, rasa kesel itu sedikit terobati (walau masih sedikit kesel karena nontonnya ga di bioskop dan nggak ama puluhan Shit Fvck lainnya). So kayak gimana film HellDriver yang udah gw tunggu-tunggu sejak kemunculan beritanya? Cek dulu aja ceritanya yah..

Kalau di Tokyo Gore Police loe ngelihat Ruka dan di Mutant Girl Squad loe ngelihat Rin maka di HellDriver ini bang ganteng Nishimura akan ngenalin kita sama Kika (Yumiko Harra). Kika disini akan berperan sebagai seseorang yang bakalan nuntut balas dendam. Ama siapa? Gini nih.. jadi, sebelum dia jadi superhero disini, Kika itu ngelihat sang ayah dibunuh ama Rikka (Eihi Shinna) dan adiknya dengan cara mengulitin kakinya. Nah si Kika ini lalu ngelariin diri, tapi si Rikka ngejarnya. Nah, pas si Rikka ngedapetin Kika, tiba-tiba aja dari langit jatuh sebuah meteor dan menghantam dadanya si Rikka. Dadanya si Rikka bolong tapi tetap hidup dan dia lalu mencabut jantungnya si Kika. Meteor ini ternyata berefek samping buat Rikka. Tubuh Rikka terlapisi oleh semacam lapisan mirip caramel (lapisan yg sama juga ngelapisin tubuh Kika) dan menyemburkan sebuah debu hitam. Debu hitam misterius ini lalu menyerbu Jepang dan setengah kotanya menjadi zombie bertanduk.

Serbuan debu hitam yang mengubah Jepang ini membuat Jepang terbagi menjadi dua. Jepang utara dihuni oleh warga yang terinfeksi dan bagian selatan dihuni warga yang normal. Dibatesin oleh sebuah tembok besar dan dijaga oleh pasukan mirip Pyramid Head di Silent Hill. Jepang pun dipimpin oleh seseorang yang nganggep para zombie ini masih manusia tapi akhirnya mati juga. Lalu kekuasaan dipimpin oleh (lupa namanya) yang ngarepin kalau semua ini harus diakhiri dengan ngebunuh zombie-zombie ini. Ditugaskanlah Kika, Kaito (kazuki Namioka), Taku (Yurei Yanagi) dan pemuda tak bernama yang semuanya bermotif balas dendam untuk membunuh sang ratu Zombie, Rikka. Dimulailah the Joy Ride berselimutkan darah-darah-darah-darah.

Kalau ada yang nanya ke gw “Film zombie apa yang menurut loe paling gila? Sebelum gw nonton film ini, gw bakal jawab BRAINDEAD a.k.a Dead Alive. Tapi kalau pertanyaan itu dilontarkan setelah gw nonton HellDriver, gw bakalan tambahin HellDriver dibelakang BRAINDEAD. Yoa… HellDriver ini adalah film zombie yang beneran sinting. Sebuah film aneh yang bakal nyuruh gw untuk menyimpan dalam-dalam otak, nalar logika serta rasa kemanusiaan gw. Hal sama yang harus kalian laksanain kalau nonton film-film model ginian. Kenape? Kalian nggak mungkin bisa nangkep secara logika sebuah darah bisa muncrat dengan lebay, seseorang dengan dada bolong masih bisa hidup dan nampelin jantung orang ke tubuhnya. Semua itu nggak mungkin loe temuin secara logika dan semua itu Cuma bisa loe temuin di otaknye abang goblok Nishimura.

Film yang terinfluence dari Night of The Living Dead nya George A Romero ini ibarat tour berdarah. Sebuah tour yang akan mengajak penontonnya untuk menyaksikan berbagai makluk aneh dan adegan-adegan glourious-splatterfest yang membuat kita-kita tertawa. Makhluk-makhluk anehnya itu seperti zombie dengan puluhan samurai di sekujur tubuhnya, zombie wanita yang ngegunain bayinya sebagai senjata atau zombie wanita yang kakinya diganti ama tangan-tangan (ada delapan tangan) yang semuanya nanti megang senjata. Masih banyak lagi lainnya yang semuanya pasti bikin kalian senengnya minta ampun.

Sebeneranya nih, ada pesan kritik sosial yang ingin disampaikan Nishimura di film ini. Sebuah pesan ketika dunia ini terbagi menjadi 2 bagian (kalau di film ini bagian zombie dan bagian non zombie) dan muncul sebuah diskriminasi sosial didalamnya apa yang bakalan terjadi? Kalau menurut Nishimura sih, diskriminasi ini di Jepang itu sesuatu yang berat banget. Tapi yah, karena Helldriver ini terlalu banyak adegan super-awesome-bloody-splatter-gore bergalon-galon-galon-galon darah, maka pesan yang ingin disampaikan itu nggak bisa ketangkep ama otak gw (atau karena gw udah ngunci otak-nalar-logika ini jadi ga bisa nangkep yah). Kalau nggak karena Wikipedia, gw nggak bakalan tahu pesan-kritik sosial yang ingin disampein Nishimura.

Ah udahlah, nggak usah mikirin itu yang penting gw udah merasa nikmat dengan semua hal di dalem film ini. HellDriver akan lebih nikmat ditonton bareng-bareng dalam Audi gede sama puluhan Sick Fvck lainnya, tapi sayang kali ini nggak bisa ngerasain itu. Buat Fans klan Nishimura, film yang  screening di banyak festival film fantastis ini (Fantastic Fest in Austin, Texas on September 28, 2010, Sitges International Fantastic Film Festival in 2010, the Brussels International Fantastic Film Festival in 2011, the Calgary International Film Festival in 2011 and Montreal’s Fantasia International Festival in 2011) emang layak  ditonton. Dan selamat menikmati kegilaan lain dari Nishimura sambil menunggu film-film lainnya.

 

Livide: Horor Terbaru Duo Sutradara Inside

Karya terbaru dari duo sutradara Inside

Hari itu tanggal 31 Oktober. Lucie (Chloe Colloud), seorang gadis berumur awal 20-an yang belum lama ditinggal mati mendiang ibunya, sedang menjalani hari pertamanya sebagai caretaker bagi orang-orang jompo. Bersama mentornya Mrs. Wilson (Catherine Jacob), mereka berkunjung dari rumah ke rumah memeriksa kondisi kesehatan para manula tersebut.

Rumah paling akhir yang mereka kunjungi hari itu adalah sebuah mansion tua 4 lantai yang terletak di daerah agak terpencil. Mansion yang bagian luarnya dipenuhi oleh sulur-sulur tanaman tersebut dihuni oleh hanya seorang perempuan renta bernama Deborah Jessel (Marie-Claude Pietragalla). Madame Jessel mengalami kondisi koma sehingga harus memperoleh bantuan berupa masker oksigen, selang infus, dan hanya bisa berbaring sepanjang hari di ranjangnya.

Sewaktu masih sehat Madame Jessel adalah seorang penari balet kenamaan yang juga melatih balet di mansionnya yang penuh dengan barang-barang antik seperti guci, buku, gramofon, foto-foto tua, dan berbagai macam hewan pajangan yang sudah dikeringkan.

Secara tak terduga Lucie mendengar informasi dari Mrs. Wilson bahwa Madame Jessel sangat kaya dan kemungkinan besar menyimpan harta karun di salah satu ruangan dalam mansion tersebut.

William (Felix Moati), pacar Lucie, sangat antusias ketika diceritakan tentang hal ini dan spontan mengajak Lucie serta seorang teman, Ben (Jeremy Kapone), untuk menjarah harta di mansion Madame Jessel. Malam itu juga mereka bertiga berangkat menuju ke sana.

Sesampainya di dalam mansion mereka belum sadar bahwa mereka telah membangunkan horor yang tak terbayangkan. Tindakan sembrono yang akan mengubah hidup mereka selamanya.

Sebagai sebuah film, Karya duo Alexandre Bustillo dan Julie Maury sangat menyenangkan buat saya. Seperti masuk ke dalam wahana rumah misteri. Mulai dari opening title, perkenalan para karakter, sampai masuk ke jantung cerita, semuanya berlangsung cepat dan efektif. Scoring-nya juga pas membangun suasana horor.

Di atas semua itu yang paling juara adalah mansion tua bergaya gothic berlantai 4 yang penuh dengan ruangan-ruangan yang sukses menggiring suasana mencekam sepanjang film. Jangan lupa, yang menjadi atraksi utama Livide tentu saja berbagai adegan seram nan ganjil yang berdarah-darah.

Verdict: Horor Perancis ini tontonan wajib bagi yang suka film semacam Pan’s Labyrinth karya Guillermo del Toro.

Salah satu favorit saya di iNAFFF11.

Rabies

Seperti apakah film horror-thriller pertama Israel ini?

Sejak awal sudah tertarik dengan premis Rabies yang diklaim sebagai film horror-thriller pertama buatan Israel.  Sepasang kakak beradik yang kabur ke cagar alam. Di sana sang adik perempuan terkena  booby trap  seorang psikopat. Sang kakak laki-laki berusaha mencari pertolongan.

Kisah menjadi kusut ketika sepasang suami istri penjaga cagar alam dan Bubba, anjing german shepherd peliharaan mereka, 2 orang polisi, dan  4 orang muda mudi pemain tenis terseret dalam permasalahan ini.

Yang harus digarisbawahi ini bukan tipikal film seperti yang kita perkirakan. Film karya duo sutradara Aharon Keshales (@aharon1keshales) dan Navot Papushado (@navotp) ini menabrak pakem genre horror-thriller-slasher yang berlaku pada umumnya. Dengan berani mereka ‘menghancurkan’ kaidah yang selama ini berlaku pada film-film seperti Friday the 13th, The Texas Chainsaw Massacre. Hasilnya Rabies jadi sebuah film gore dibalut dialog menggelitik di sana sini dengan plot penuh kejutan dan digenapi ending yang tidak biasa.

Dengan formula seperti ini, hampir sepanjang pemutaran film ini di iNAFFF11, terdengar tawa, jeritan, dan sorak penonton. Bisa dibilang Rabies berhasil memicu orgasme berjamaah bagi penggila film horror-thriller-slasher. Oya, yang menarik semua casts memperoleh jatah peran yang seimbang. Jadi bisa dibilang tidak ada pemeran utama.

Kalau bisa dirangkum sepertinya sang filmmaker ingin menyampaikan pesan pada penonton:  “Orang(-orang) yang salah di tempat yang salah pada waktu yang salah”.

Cari film ini.