11 Album Paling Disarankan di 2011

Setidaknya ada 500 lebih album baru dirilis tahun ini, itu hanya yang tercatat di Wikipedia. Memilih 11 saja bukan perkara mudah, apalagi daftar seperti ini seringnya malah menuai kritik bahkan kadang perdebatan yang tidak seharusnya ada. Toh ini hanya soal selera. Berdasarkan jumlah play terbanyak di Songbird saya, serta tanpa mengesampingkan musisi lain yang ada di luar daftar ini, berikut adalah 10 rilis 2011 yang paling saya sarankan untuk anda dengarkan:

Bon Iver – Bon Iver

Bon Iver - Bon Iver

Mungkin kalau saya tinggal di UK atau US, saya bisa bilang “Siapa tidak kenal Bon Iver?” Tapi berhubung tinggal di Indonesia, dan pembaca Review Bastard mayoritas berasal dari Indonesia juga, maka saya akan bilang “Kalian harus kenal Bon Iver!” Justin Vernon adalah orang dibalik kesuksesan Bon Iver sejak 2007, seorang indie rocker yang membawa serta aroma folk. Will Hermes dari Rolling Stone bilang “Vernon is more than a bearded indie rocker with a taste for rural roots music. He’s a soul auteur, and he’s just getting started.” Jadi siap-siap saja, musik indah Bon Iver baru saja dimulai!

Fleet Foxes – Helplessness Blues

Fleet Foxes - Helplessness Blues

Album kedua dari enam orang Seattle ini betul-betul menguatkan pernyataan bahwa kota itu tidak pernah lelah menelurkan musisi-musisi berbakat. Helplessness Blues adalah sebuah album yang membawa kita ke awan, dengan musik harmonisnya serta vokal prima dari Robin Pecknold. Album yang kaya dengan suara-suara folk psikadelik. Seperti halnya Bon Iver, Fleet Foxes juga baru memulai.

Radiohead – The King Of Limbs

Radiohead - King of Limbs

Seberapa tidak sukanya saya dengan album ini, tetap saja masih ada di 10 album paling sering saya putar. Satu-satunya alasan kenapa saya mendengarkan album ini karena ini adalah Radiohead, kualitas musik serta bagaimana orang-orang gila ini menulis lagu tetap membuat saya takjub. Nyatanya The King Of Limbs disebut-sebut sebagai album paling kreatif dari band asal Britania Raya ini, sayangnya sebagai penggemar Radiohead yang lebih konvensional saya memilih untuk berhenti menempatkan mereka diatas semuanya sejak Kid A. Sekali lagi, ini hanya soal selera.

Feist – Metals

Sejak The Reminder, Leslie Feist berhasil menyita perhatian saya dengan suaranya yang luar biasa, belum lagi kenyataan bahwa Feist adalah seorang penulis lagu yang brilian. Untuk yang belum mengenal Feist (saya yakin tidak banyak), cari album ini dan persiapkan dirimu untuk kedatangannya di 2012 besok.

REVIEW

Cults – Cults

Cults's Cult Cover

Seorang gadis mantan vokalis dari sebuah band punk yang bertemu dengan seorang pemuda indie-folk-rock, Cults adalah album yang sangat kreatif dari dua musisi muda asal Manhattan. Tidak sabar untuk melihat dua orang ini masuk studio lagi untuk album berikutnya.

REVIEW

Adele – 21

Adele - 21

Perempuan bernama lengkap Adele Laurie Blue Adkins ini membuat saya (dan sepertinya semua orang) jatuh cinta dengan suaranya. Sejak debutnya, 18, Adele adalah salah satu musisi muda yang selalu mendapat ulasan bagus di kalangan kritikus musik. Khusus 21, ini adalah 18 ditambah 3 untuk musik yang lebih menggigit.

REVIEW

BOY – Mutual Friends

BOY - Mutual Friends

Dua gadis cantik ini akan membuat anda terpana dengan musik dan bagaimana mereka menulis lagu. Nuff said.

REVIEW

Kurt Vile – Smoke Ring For My Halo

Kurt Vile Smoke - Ring For My Halo Album Cover

Kurt Vile adalah seorang penulis lagu penuh bakat yang keluar dari kamar kecilnya dengan gitar dan dua album yang akan membuat anda terperangah. Perpaduan antara Bruce Springsteen, Lou Reed dan Bob Dylan ini siap untuk jadi penerus mereka.

REVIEW

Wilco – The Whole Love

Wilco - The Whole Love

Album pertama Wilco dengan label mereka sendiri. Para penikmat wilco sejak Being There (1996) tentu saja tahu, ini album terbaik mereka.

REVIEW

The Antlers – Burst Apart

The Antlers - Burst Apart Album Cover

Album dengan lirik-lirik jagoan. Jangan lewatkan band indie-rock ini, mereka beda dari yang sudah ada!

REVIEW

Foo Fighters – Wasting Light

Foo Fighters - Wasting Light

Album gila dari orang-orang gila! Jangan pernah melewatkan album ini, rilis terbaik di 2011, rilis terbaik Foo Fighters. Hail Dave Grohl! Saking bagusnya, saya ragu Foo bisa bikin album yang lebih bagus lagi di kemudian hari. But, hey, it’s Foo Fighters tidak seharusnya saya meragukan mereka.

REVIEW

Marissa Nadler – Marissa Nadler

Salah satu album terbaik yang rilis di 2011. Pertama kali melihat cover albumnya yang edgy, di balik itu, ternyata judul-judul lagunya lebih unik! Sebagai contoh dua track pertamanya In Your Lair, Bear dan Alabaster Queen. Tidak lama kemudian album ini jadi salah satu album paling banyak diputar di Songbird saya. Satu hal mengenai Nadler, perempuan ini punya kemampuan untuk menulis lagu yang bercerita tentang sesuatu yang menyedihkan dengan sisipan kata-kata manis ditengah-tengahnya, dalam satu lagu. Lekas dengarkan Puppet Master, lagu ini akan membuatmu tersenyum seharian. Tapi jangan salahkan saya kalau nada-nada waltz dalam track ini lantas membuatmu ingin menari.

Selain kemampuannya menulis lirik-lirik unik yang bercerita dengan jujur tentang hal-hal kecil yang mewarnai kehidupan, soroti juga musiknya. Tengok bagaimana Nadler mengaransemen rangkaian gitar, drum dan synth di lagu-lagu semacam In A Magazine dan The Sun Always Reminds Me Of You untuk kemudian menciptakan harmonisasi yang layak untuk tidak dilewatkan. Bagi saya hal tersebut merupakan bakat yang mengesankan, disamping tentu saja suaranya yang nyaman di telinga. It’s linger, yet beautiful. Mengingat Nadler adalah seorang penyanyi folk. Caranya menyanyi mengingatkan kita kepada Nina Simone, dengan sedikit semangat Patti Smith.

Self titled album ini adalah yang kelima setelah debut Marissa Nadler di 2004 lalu. Pun dua album sebelum ini mendapatkan ulasan kurang bagus, Nadler kembali menuai pujian untuk rilis terbarunya ini. Ikuti perkembangan Marissa Nadler melalui situs resminya, jangan lupa untuk berlangganan RSS kami untuk review tentang rilisan-rilisan dari musisi berbakat lainnya. Selamat menikmati!

Marissa Nadler 2011

Adele – 21

Who doesn’t love adele?  Well, maybe her ex boyfriends.

We all do love her, we all feel like finally someone with a great vocal and emotion, speak our hearts in a words we would never thought about in a tunes that is mostly fits and singable, or at least hummable.

First week of listening to the 21 album released in circa January 2011, i loved it. I played it everywhere. My most favorite place to listen to it is in a car with maximum volume, i scream the lyrics out loud like a pathetic bitch. I still love it, actually. When she made statements about ‘has made the strongest songs in 2011’ when it’s only January, i thought, yes. It’s no bragging. It’s true. Rumour Has It, Rolling In The Deep, Set Fire To The Rain, and the outmost Someone Like You, are indeed the strongest songs in 2011. No one could deny it. The album is full of no. 1 hits, in charts, and in hearts. The hearts of broken hearted people, which by the way, increasing ragingly in past years. I mean, we all feel miserable. In same way. Love sucks. No dealing with it. Social medias made it simpler for broken hearted youngsters and middle aged and no kidding – everyone. Putting Someone Like You in your #nowplaying would get you more feedbacks. People feel all the same.

And then, here comes the question. HOW OLD ARE YOU, ADELE? The album title is 21. her age is actually 23. (born in 1988) She made the album 21 because that’s how she feels in her 21. this legit question really has something to do with the lyrics in the album. Like when she said “she is half your age but i’m guessing that’s the reason that you strayed” in Rumour Has It, of course she’s singing the song to her lover, or ex-lover, who has a new lover who’s half his age. Get what i mean? How old are you? And fyi, this song is true story. She wrote the song dedicated to her ex-lover. She announced it continously in her concert, attaching more strong statement by giving her 2 middle fingers at the beginning of the song, while singing the song, and in the end. To feel something so deep, full of dissapointment to love, anger, and loss. It’s all too intense. And we all love it. We all feel the same. How old are we? …

No need for me to write all the songs lyrics here. You all knew already, or else, you can google it now. All the same in every song. Even in Love Song (cover version of The Cure) a very romantic song, she made it sound so beautiful yet so sad. The voice of hers, is so beautiful and soulful, so strong. Made the statements stronger. In a sad way, or in my opinion, miserable way, and in her ex-boyfriends opinion (maybe) bitcy, whiny, annoying way.

Her previous album, 19, is happier. Simpler. Maybe because she was 3 years younger. Imagine what these past 3 years has been treating her, romantically. How many broken hearts she’s been to successfully produced this album? My condolence is for her. #pukpuk, Adele.

I can’t wait for another of her work. New album maybe, new songs released. It must be musically awesome, but, for Adele itself, i wish they’re a happy songs. Not that i don’t love her heartbreaking songs, but i truely wish her a happy relationships leading to happier songs. Because i believe, with her vocal and musical quality, it would be great too. Don’t be a specialist in sad, angry songs. Because people think that way. And that my friend, is how 21 is the strongest album of 2011. It dictate your thinking. And feeling.

Adele 21

Kurt Vile – Smoke Ring For My Halo

Untuk orang seperti saya, penggemar solois dengan permainan gitar yang ajaib beserta lirik-lirik cerdasnya, menemukan rilisan baru dari Kurt Vile adalah sebuah kegembiraan yang luar biasa sehingga menimbulkan semacam antusiasme seperti memberikan nilai penuh untuk rilisan berjudul Smoke Ring For My Halo ini. Dengan tanpa mengecilkan charm yang dibuat Childish Prodigy, album Kurt sebelumnya, saya dengan sangat percaya diri menyebut album ini jauh lebih baik.

Mendengarkan musisi asal Lansdowne, Pennsylvania, ini seperti menikmati masakan rumah. Hand crafted songs yang dibuat berdasarkan selera tertentu, seolah-olah dibuat begitu saja padahal sudah melalui proses yang begitu lama dan berulang-ulang sehingga alih-alih bosan semakin hari malah semakin kita menikmatinya. Coba dengarkan track On Tour sebagai awalan, juga Peeping Tomboy yang lebih riang. Liriknya sederhana namun tidak murahan, pun begitu dengan lick-lick gitarnya. Di dua lagu ini, kentara betul aroma Bob Dylan dan Lou Reed. Dari dua track tadi, barulah coba dengar Jesus Fever, Society Is My Friend dan In My Time yang lebih harmonis, barulah sekarang kita tahu kenapa Kurt disamakan dengan Bruce Springsteen. Ingin sesuatu yang sedikit gelap? Coba dengar Ghost Town. Juga jangan lupa track-track bluesy seperti Puppet To The Man dan Runner Ups, atau kamu akan melewatkan bagian terbaik dari Kurt.

Menyamakan Kurt dengan Dylan, Reed dan Springsteen bukanlah sesuatu yang berlebihan, dengan kualitas penulisan lagu yang semakin hari semakin bagus serta keberanian untuk memasukan instrumen-instrumen kekinian kedalam album terbarunya ini malah membuat saya yakin Kurt akan dapat menyamai ketiga musisi tersebut. Transformasi dari seorang musisi kamar dengan musik pop-psikadelik menuju seorang solois folk-blues, ditambah sekarang Smoke Ring For My Halo, adalah bukti bahwa Kurt bukanlah musisi sekali lewat dan Matador beruntung mendapatkan tandatangannya. Sangat disarankan, tapi tidak untuk semua orang, salah satu album terbaik yang rilis di 2011.

Ikuti perkembangan tentang Kurt Vile melalui FacebookTwitterMySpaceLast.fmnya. Juga sekali lagi saya ingatkan untuk berlangganan RSS kami dan mengikuti ulasan-ulasan tentang musik dan film melalui @ReviewBastard. Selamat menikmati.

Kurt Vile Smoke Ring For My Halo Album Cover

The Antlers – Burst Apart

Beberapa musisi suka memberikan kesan bahwa rilisnya adalah sebuah taman bermain dengan beragam atraksi dengan tingkat kesenangan yang berbeda-beda sehingga siapapun bisa masuk dan ikut menikmatinya, baik itu semua atau hanya beberapa, silahkan dipilih tergantung selera. Beberapa lain lebih suka membuatnya seperti sebuah lounge dengan konsep tertentu yang hanya dapat dinikmati oleh sebagian orang atau pada waktu tertentu saja. Burst Apart adalah sebuah lounge yang dibuat sedemikian rupa sehingga mempunyai esensi tertentu ketika mendengarkannya.

Sepertihalnya Hospice, rilis mereka sebelumnya, album keempat dari The Antlers ini adalah sebuah rilis yang emosional. Kalau dalam Hospice kita menemukan gambaran sebuah hubungan antara seorang perawat dengan pasiennya, dalam Burst Apart akan kita temukan seseorang yang sedang menyatakan ketidakmengertiannya tentang bagaimana suatu perasaan menyenangkan seperti jatuh cinta kemudian berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan ketika patah hati. Percayalah sebelum menulis ulasan ini, saya sudah berusaha sebisa mungkin agar tidak terdengar melankolis. Tapi memang itu yang akan kita temukan ketika mendengarkan rilis ini, secara lirikal.

Sementara musiknya, seperti sudah saya sebutkan tadi, dikonsep sedemikian rupa agar mengantarkan pernyataan-pernyataan liriknya tersebut. Melodi yang tenang dengan tempo lambat, tapi tidak untuk menyayat pendengar dengan sound seadanya walau memang minimalis. Seperti musik latar yang sedang mengiringi puisi, membiarkan lirik-liriknya berdiri paling depan mengantarkan esensi dari track ke track. Seperti Death Cab For Cutie dengan tempo yang lebih tenang. Tengok track Tiptoe dan I don’t Want Love.

Simpan album ini karena termasuk rilis terbaik 2011 versi saya, juga karena siapa tahu dikemudian hari pacarmu yang luar biasa itu ternyata lebih menyukai orang lain yang mandi dua kali sehari daripada yang mandi dua hari sekali. Set lengkap Burst Apart bisa kamu dengarkan diatas. Selamat menikmati, jangan lupa untuk berlangganan RSS kami untuk ulasan-ulasan film dan musik kesukaanmu.

The Antlers Burst Apart Album Cover

Glen Campbell – Ghost On The Canvas

Minat saya akan musik folk akhir-akhir ini meningkat tinggi, setelah sebelumnya mengenal Wilco dan Lanterns On The Lake sekarang saya bertemu sang legenda country-folk Glen Campbell. Sayangnya, Glen menyebut album ini sebagai album terakhirnya karena saat ini beliau sedang bergulat dengan alzheimer dan memutuskan untuk beristirahat dari dunia musik. Itulah yang menjadikan Ghost On The Canvas sebagai album selamat tinggal.

Sejak awal 2010 Glen mengumpulkan musisi-musisi berbakat untuk ikut ambil bagian dalam album ini, hitunglah seperti Paul Westerberg dari The Replacements yang beliau ajak untuk membangun sebuah track luar biasa seperti yang kita temukan dalam title-track, Ghost On The Canvas. A Better Placetrack pembuka album hasil kolaborasi Glen dengan produser Julian Raymond ini juga patut diberi perhatian lebih dengan liriknya yang begitu kuat. Sebuah track autobiografi yang akan membuatmu melirik kebelakang, ke 51 album Glen sebelumnya. Lagu lain untuk didengarkan adalah Strong dan Nothing But The Whole Wide World.

Sebagai catatan, pun ini adalah sebuah album terakhir namun tidak ada satupun keluhan yang berkaitan dengan apa yang dihadapi Glen saat ini. Dengarkan baik-baik, album ini berisi tentang indahnya kehidupan dan bagaimana kita seharusnya mulai menikmatinya. Sebuah album selamat tinggal yang optimis, yang akan membuat album ini (dan tentu saja Glen Campbell) eternal dalam telinga para pendengarnya. Salah satu album terbaik yang rilis di 2011 pilihan saya. Selamat menikmati!

Glen Campbel

 

Starfucker – Reptilians

Begitu mendengarkan Born, saya langsung menaikan volume sound system. Saya suka sekali dengan suara gitar di lagu tersebut, sayangnya tidak ditemukan lagi di lagu lain. Tapi di track Reptilians ada komposisi yang ajaib, dan bukan main bikin senang, silahkan coba dengarkan melalui Grooveshark Player dibawah post ini. Judul yang sama dipakai untuk judul album kedua band asal Oregon ini, Reptilians. Sebuah album yang ketika mendengarkannya seperti kita menikmati gado-gado, serba ada. Mulai dari beat-beat cepat nan danceable seperti di track semacam Julius, sampai melodi-melodi gelap yang galau seperti yang akan kita temukan di track Mona Vegas. Dan sebagai bumbunya, chiptune khas Starfucker ditebarkan di sana-sini.

Starfucker awalnya hanya sebuah project pribadi dari Joshua Hodges pada tahun 2007 lalu. Hodges ingin membuat sebuah musik dance dengan kemasan semudah pop, dan itulah yang terjadi dengan musik Starfucker, easy to listen yet also you can dance to it. Tidak banyak yang bisa saya perkenalkan dari band yang acap kali menggunakan nama STRFKR saat live ini, karena seperti kita lihat melalui Reptilians, mereka hanya sekumpulan orang yang bersenang-senang. Beruntunglah, album ini berhasil membuat kita juga ikut senang. Salah satu album terbaik yang dirilis di 2011.

Ikuti perkembangan Starfucker melalui Myspace dan Twitter mereka. Jangan lupa untuk juga berlangganan RSS kami. Selamat menikmati!

Starfucker - Reptilians