Immortals

With Tarsem Singh on director’s seat, i expected a dazzling visual experience. Sadly, Tarsem Singh is selling out.

Immortals sendiri bercerita tentang mitologi Yunani, dan perebutan kekuasaan antara manusia dan dewa. Alkisah para kaum abadi sesungguhnya bisa membunuh satu sama lain, dan pada suatu pertempuran besar, kaum abadi yang menang itulah yang kemudian disebut Dewa dan yang kalah adalah para Titan yang dikurung di Gunung Tartarus.

Satu-satunya yang bisa membebaskan para Titan yaitu busur Epirus yang hilang dan jatuh ke bumi saat pertempuran besar tersebut. Busur Epirus ini kemudian menjadi incaran Hyperion (Mickey Rourke) yang ingin menghancurkan kekuasaan Dewa-Dewa. Keberadaan Busur Epirus ini dapat diketahui melalui peramal suci Phaedra (Freida Pinto). Dalam perburuan busur inilah diperkenalkan sosok Theseus (Henry Cavill, our Superman in upcoming Man of Steel), seorang pemuda biasa yang dikucilkan oleh warga desanya karena stigma anak di luar nikah. Namun diam-diam Dewa Zeus menaruh perhatian besar pada Theseus dan mengajarinya berbagai hal dengan menyamar sebagai pria tua.

Disinilah garis besar cerita sudah dapat ditebak, –kisah klasik kepahlawanan bagaimana Theseus adalah ‘the chosen one’, jatuh hati pada si peramal cantik, menjadi pemimpin kaum mortal dalam melawan pasukan Hyperion, yada yadayada yada. I thought we already used that lame formula on that lousy Avatar.

Don’t even get me started on that horrible ending

Tidak seperti karya brilian sebelumnya The Cell dan The Fall, cerita Immortals memiliki banyak sekali kelemahan selain plot yang memang sudah klise. Sosok Phaedra bahkan sudah tidak relevan lagi porsinya sejak pertengahan film, dan kubur dalam-dalam ekspektasi adegan perang yang melibatkan busur Epirus. I don’t know why they even bother to mention it in the first place. Bahkan Dewa Zeus yang memang sengaja diperankan tokoh muda (tidak seperti tipikal sosok Zeus yang selama ini digambarkan di film-film lain) nampak kurang meyakinkan. Titan yang konon setingkat dengan ‘Dewa’ ya ternyata pada akhirnya…..begitu saja. Jika dibandingkan dengan 300-nya Zack Snyder, karakter-karakter di 300 bisa meninggalkan impresi yang jauh lebih kuat. Produser boleh sama, tapi nampaknya kontennya berkata lain.

The only good thing about Immortals is Mickey Rourke being Mickey Rourke, a badass. Untuk yang memang mengharapkan adegan gore berhamburan darah mungkin akan cukup terpuaskan dengan beberapa adegan slow motion yang cukup detil. But overall, IMHO Tarsem Singh should’ve been better than that.

Well anyway, big thanks to INAFFF and Total Film Magazine for Immortals screening opportunities! Keep ‘em coming!

Blur: No Distance Left To Run

No Distance Left To Run adalah sebuah dokumenter yang dibuat pada musim panas 2009 lalu ketika Blur reuni setelah berpisah selama hampir 7 tahun dan menggelar tour di beberapa kota di Inggris. Blur adalah Britpop, bicara Britpop tentu saja harus bicara Blur, namun di tengah-tengah dokumenter akan kita lihat bagaimana sebutan Britpop itu sangat mempengaruhi band terutama sang gitaris Graham Coxon.

Banyak cerita yang disampaikan dalam dokumenter ini yang belum diketahui publik. Tentu saja mereka bicara sejarah, disusun dalam rangkaian flashback yang diselipkan diantara lagu perlagu selama tur reuni mereka. Bagaimana Damon Albarn memulai Blur, persahabatan yang terjalin di antara keempat personilnya, persahabatan Alex James dengan Graham yang menginspirasinya untuk menulis Bit Of A Blur, sosok personil paling kalem Dave Rowntree, cerita sebenarnya dibalik perseteruan mereka dengan Oasis, dan terutama bagaimana cerita sesungguhnya mengenai perpisahan mereka setelah Think Tank.

 Sajian rutin sebuah dokumenter musik ada di sini, eksploitasi emosi per personil serta drama depresi orang perorang barang tentu jadi bahan jualan. Jangan lupa banyak footage yang tidak pernah dipublish sebelumnya, lantas kalau kalian beruntung menemukan DVDnya, ada tayangan konser terbesar pertama mereka paska reuni di Hyde Park London pada DVD ke 2. Dokumenter ini merupakan sindiran untuk mereka yang menganggap Blur adalah Damon Albarn seorang, juga sebagai jawaban atas penghakiman publik yang memihak antara Oasis dan Blur di pertengahan ’90an lalu. Dokumenter ini koleksi berharga untuk mereka yang merasa terpengaruh oleh Blur serta era ’90an pada umumnya.