eLmatic: Elzhi’s Tribute to Nas

Remake attempts of timeless cultural classics have always been a risky trail to venture. Most often, the results always falls flat as a defamation of the original’s eminence. The effort of adapting an ‘epic’ to be more suitable for the newer generation (you little pricks!) ultimately ends up as a backlash pissing off (grawr!) the older generation that appreciates every little traits that embraces it as a prominent ‘classic.’ In the realm of hiphop, it’s probably even a far more dangerous game to play; a gamble at the cost of the producer and/or MC’s street cred.

So when an MC, even as marvel as Jason Powers a.k.a ELZHI  – former member of the hiphop group Slum Village – announces that he will release a mixtape tribute to one of hiphop’s critically acclaimed treasure album ‘Illmatic‘ (1994) none other by New York’s prodigal son Nas, it is immiment that fans will raise an important question: can Elzhi manage to live up to the original’s legacy?

Released on May 10, 2011, the highly anticipated mixtape ‘eLMatic‘ produced by Will Sessions has proven that not only Elzhi is capable of tackling one of the most esteemed LP ever to surface in hiphop, but he is truly deserved to be knighted as “Detroit’s Best Kept Secret.”

If we reasess once more the brilliance of ‘Illmatic’, it is indisputed that this album displays one of the rawest spit ever flown in hiphop history, and there is so little room for improvement for any attempts of remixes, or yet even impossible. But Elzhi did justice with the mixtape tribute, and most importantly honored it by not trying to outshine Nas but pay respect by interpreting the tales of gritty New York into his own Detroit point of view.

Although there are quite a few resemblances between the two MC’s lyrical style from the delivery and the flow over the bars, it is astonishing how Elzhi prevails in personalizing ‘Illmatic’ into ‘eLmatic.’  “New York State of Mind” turns into “Detroit State of Mind,” the wordplay in “Halftime” is hair-raising,  and the storytelling in “Memory Lane”  is superb.

A noticeable difference between those two of course lies with the beats, in which Elzhi enhances the original with live instrumentation by the band Will Sessions. They have almost all of the original elements and the basic sound essence of ‘Illmatic’, but the recycled work fuels a much more fresh and modern feel. In a way, Elzhi has impressively brought back hiphop’s glory days of the 90s with a tribute that is worthy of multiple plays.

Here are the list of tracks of Elzhi’s ‘eLmatic’, and did I mention its a free album to download? Click here for the download link.

1. The Genesis
2. Detroit State of Mind (Houseshoes Shout)
3. Halftime
4. Memory Lane
5. The World Is Yours
6. Represent
7. Life’s A Bitch feat. Royce da 5’9 and Stokley Williams of Mint Condition
8. One Love
9. It Ain’t Hard To Tell
10. Pete Rock Shout

Architects – Devil’s Island

Saya paling suka dengan music video yang seolah-olah memvisualisasikan isi lagunya. Sore ini, kebetulan bertemu dengan video terbarunya Architects. Band metal asal Inggris ini tengah mempromosikan materi-materi untuk album baru mereka yang tidak lama lagi akan dirilis, dan video ini adalah bagian dari promo mereka. Judul singlenya “Devil’s Island”, seluruh videonya berisi footage-footage dari kerusuhan yang melanda Inggris beberapa waktu yang lalu. Lagunya bagus, liriknya tajam, bisa kalian dengar dengan mengunjungi fanpage mereka atau melalui Soundcloud player kami di bawah ini.

 

Jens Lekman – I Don’t Know What To Do With This Information

Dari sesi akustik bersama Meida Vale di BBC Radio 1 akhir-akhir ini, Jens Lekman memainkan satu lagu baru yang tidak ada di EP rilisan terakhirnya, An Argument With Myself, lagu dengan judul “I Don’t Know What To Do With This Information” ini dimainkan akustik dan bisa kalian dengarkan di bawah ini.

Feist’s How Come You Never Go There

Pertama kali menonton clip ini saya kaget dengan betapa panjangnya rambut Feist. Tengok, jadinya cenderung menyeramkan dengan doktrin kuntilanak yang saya terima sejak kecil. Hahha.. Tapi ini Feist, si cantik dengan suara unik ini punya clip baru untuk single How Come You Never Go There yang diambil dari album terakhirnya Metals yang sudah pernah direview oleh Diantra. Sejak fase promo sebelum Metals dirilis, saya sudah mengira bahwa album ini akan minim warna. Pun begitu dengan clip ini. Feist berada di tengah-tengah hutan dengan nuansa hitam-putih, menyanyi sambil membiarkan rambut panjangnya bermain dengan angin dan kabut di sekitarnya. Tapi ini Feist, saya dengarkan lagu-lagunya sambil tutup mata, jadi clipnya cukuplah bisa mewakili si lagu. Apalagi nuansa monokromnya, saya cinta monokrom. Think I should go there sometime, buat uji nyali misalnya. Tapi serius, saya tonton berkali-kali juga masih ragu antara itu Feist, Yoko Ono atau Sadako Yamamura.

Introducing Bear Driver

Perkenalkan Bear Driver, enam orang Londoners yang Januari nanti akan merilis album debut mereka. Single berikut ini merupakan yang pertama dipublikasi untuk publik dan akan menjadi bagian dari album baru nanti, judulnya Never Never. Sekilas mirip lagu-lagunya Mojave tapi dengan suara vokal yang lebih menjorok ke dalam musiknya, terutama gitar yang menonjol. Lumayan, mendengarkan single ini menjadi semacam nostalgia menuju suasana pagi hari yang cerah berhubung akhir-akhir ini mendung terus. Never Never bisa kalian dengarkan dibawah ini, dan hey, mereka bilang boleh diunduh gratis. Enjoy!

Real Steel

Sudah sebegitu parahkah kita sampai-sampai  untuk menyampaikan hal yang emosional harus diwakilkan pada sesosok robot? Yak, betul. Memang terdengar ironis. Robot yang ‘seharusnya’ tidak memiliki emosi malah justru mampu memicu sisi sensitif kita.

Siapa yang ga terharu melihat kisah cinta WALL∙E dan EVE? Kali ini pun terjadi di Real Steel. Tersangka utamanya adalah sebongkah robot setinggi 2,5 meter bernama Atom. Pada beberapa adegan yang melibatkan Atom, tanpa disadari saya mbrebes mili. Padahal Atom ini ga punya muka lohh… Hanya memiliki wajah hitam kelam yang diterangi sepasang mata lampu yang berwarna hijau. Namun entah kenapa saya bisa merasakan ‘emosi’ Atom.

Secara garis besar kisah Real Steel berpusat di diri Charlie Kenton (Hugh Jackman), seorang mantan petinju profesional yang saat ini mencari nafkah sebagai ‘pawang’ robot yang menggantikan peran manusia dalam bertinju.

Di saat bangkrut dan dikejar-kejar penagih utang, ia justru memperoleh ‘warisan’ tak terduga dari mantan istrinya yang baru saja meninggal, yaitu seorang anak lelaki berumur 11 tahun. Si anak, Max (Dakota Goyo yang kadang-kadang terlihat overacting), ngotot ingin mengikuti ayahnya yang berkeliling dari kota ke kota untuk menawarkan jasa robot petarungnya.

Alur selanjutnya sih sudah ketebak. Selama perjalanan ini Charlie dan Max berproses memahami satu sama lain. Sekilas plotnya mirip dengan Over the Top (1987) yang dibintangi Sylvester Stallone. Kalo di film ini Stallone berprofesi sebagai arm wrestler (adu panco).

‘Bonus utama’ film ini tentu saja pertarungan tinju nan brutal antar para robot yang disajikan lewat CGI secara halus, riil, dan tidak berlebihan.

Jadi, apakah Atom memiliki emosi?
Atau tidak?

 

Amadeus: A Great Mass Of Death

Although 1984′s Amadeus, directed by Milos Forman, was not based on a true historical portrayal regarding Antonio Salieri’s disdain towards Mozart’s godlike musical gift, this masterpiece is a glorious celebration of the brilliance of Wolfgang Amadeus Mozart and his madness that galvanize such imaginative creativity and originality.

However, this motion picture is not entirely about Mozart himself, but further on the impact of Mozart’s prodigal gift on Salieri’s sanity which thrusts such dementia and obsession. In latin the word ‘amadeus’ is  defined as ‘Love of God’, and throughout the film, Salieri’s obsession with Mozart is highlighted by his self-conscious mediocrity and inferiority against Mozart’s divine gift. Salieri constantly questions God: “Why does God not give me talent? Why Mozart? Why does God love him, but not me?”

The torment of Salieri’s soul for the love of music was played and characterized perfectly by F. Murray Abraham. If Don Vito Corleone from the Godfather was a sensational character, Abraham’s performance as Salieri was chilling, gripping, and mind trembling.

Here’s a clip of one of my favorite scene from Amadeus of Salieri’s scheme to murder Mozart and claim The Requiem Mass as his masterpiece. Notice his love for music and enviousness towards Mozart that torments him deeply.