Jens Lekman – I Don’t Know What To Do With This Information

Dari sesi akustik bersama Meida Vale di BBC Radio 1 akhir-akhir ini, Jens Lekman memainkan satu lagu baru yang tidak ada di EP rilisan terakhirnya, An Argument With Myself, lagu dengan judul “I Don’t Know What To Do With This Information” ini dimainkan akustik dan bisa kalian dengarkan di bawah ini.

Feist’s How Come You Never Go There

Pertama kali menonton clip ini saya kaget dengan betapa panjangnya rambut Feist. Tengok, jadinya cenderung menyeramkan dengan doktrin kuntilanak yang saya terima sejak kecil. Hahha.. Tapi ini Feist, si cantik dengan suara unik ini punya clip baru untuk single How Come You Never Go There yang diambil dari album terakhirnya Metals yang sudah pernah direview oleh Diantra. Sejak fase promo sebelum Metals dirilis, saya sudah mengira bahwa album ini akan minim warna. Pun begitu dengan clip ini. Feist berada di tengah-tengah hutan dengan nuansa hitam-putih, menyanyi sambil membiarkan rambut panjangnya bermain dengan angin dan kabut di sekitarnya. Tapi ini Feist, saya dengarkan lagu-lagunya sambil tutup mata, jadi clipnya cukuplah bisa mewakili si lagu. Apalagi nuansa monokromnya, saya cinta monokrom. Think I should go there sometime, buat uji nyali misalnya. Tapi serius, saya tonton berkali-kali juga masih ragu antara itu Feist, Yoko Ono atau Sadako Yamamura.

Introducing Bear Driver

Perkenalkan Bear Driver, enam orang Londoners yang Januari nanti akan merilis album debut mereka. Single berikut ini merupakan yang pertama dipublikasi untuk publik dan akan menjadi bagian dari album baru nanti, judulnya Never Never. Sekilas mirip lagu-lagunya Mojave tapi dengan suara vokal yang lebih menjorok ke dalam musiknya, terutama gitar yang menonjol. Lumayan, mendengarkan single ini menjadi semacam nostalgia menuju suasana pagi hari yang cerah berhubung akhir-akhir ini mendung terus. Never Never bisa kalian dengarkan dibawah ini, dan hey, mereka bilang boleh diunduh gratis. Enjoy!

Real Steel

Sudah sebegitu parahkah kita sampai-sampai  untuk menyampaikan hal yang emosional harus diwakilkan pada sesosok robot? Yak, betul. Memang terdengar ironis. Robot yang ‘seharusnya’ tidak memiliki emosi malah justru mampu memicu sisi sensitif kita.

Siapa yang ga terharu melihat kisah cinta WALL∙E dan EVE? Kali ini pun terjadi di Real Steel. Tersangka utamanya adalah sebongkah robot setinggi 2,5 meter bernama Atom. Pada beberapa adegan yang melibatkan Atom, tanpa disadari saya mbrebes mili. Padahal Atom ini ga punya muka lohh… Hanya memiliki wajah hitam kelam yang diterangi sepasang mata lampu yang berwarna hijau. Namun entah kenapa saya bisa merasakan ‘emosi’ Atom.

Secara garis besar kisah Real Steel berpusat di diri Charlie Kenton (Hugh Jackman), seorang mantan petinju profesional yang saat ini mencari nafkah sebagai ‘pawang’ robot yang menggantikan peran manusia dalam bertinju.

Di saat bangkrut dan dikejar-kejar penagih utang, ia justru memperoleh ‘warisan’ tak terduga dari mantan istrinya yang baru saja meninggal, yaitu seorang anak lelaki berumur 11 tahun. Si anak, Max (Dakota Goyo yang kadang-kadang terlihat overacting), ngotot ingin mengikuti ayahnya yang berkeliling dari kota ke kota untuk menawarkan jasa robot petarungnya.

Alur selanjutnya sih sudah ketebak. Selama perjalanan ini Charlie dan Max berproses memahami satu sama lain. Sekilas plotnya mirip dengan Over the Top (1987) yang dibintangi Sylvester Stallone. Kalo di film ini Stallone berprofesi sebagai arm wrestler (adu panco).

‘Bonus utama’ film ini tentu saja pertarungan tinju nan brutal antar para robot yang disajikan lewat CGI secara halus, riil, dan tidak berlebihan.

Jadi, apakah Atom memiliki emosi?
Atau tidak?

 

Amadeus: A Great Mass Of Death

Although 1984′s Amadeus, directed by Milos Forman, was not based on a true historical portrayal regarding Antonio Salieri’s disdain towards Mozart’s godlike musical gift, this masterpiece is a glorious celebration of the brilliance of Wolfgang Amadeus Mozart and his madness that galvanize such imaginative creativity and originality.

However, this motion picture is not entirely about Mozart himself, but further on the impact of Mozart’s prodigal gift on Salieri’s sanity which thrusts such dementia and obsession. In latin the word ‘amadeus’ is  defined as ‘Love of God’, and throughout the film, Salieri’s obsession with Mozart is highlighted by his self-conscious mediocrity and inferiority against Mozart’s divine gift. Salieri constantly questions God: “Why does God not give me talent? Why Mozart? Why does God love him, but not me?”

The torment of Salieri’s soul for the love of music was played and characterized perfectly by F. Murray Abraham. If Don Vito Corleone from the Godfather was a sensational character, Abraham’s performance as Salieri was chilling, gripping, and mind trembling.

Here’s a clip of one of my favorite scene from Amadeus of Salieri’s scheme to murder Mozart and claim The Requiem Mass as his masterpiece. Notice his love for music and enviousness towards Mozart that torments him deeply.

 

Feist & Metals: The Root Of Transformation

Listening to fourth album of Feist: Metals, automatically brings your thoughts to her previous albums as you’re comparing the new songs to the old ones. And, yes, the organic sound filled with galumphing beats has lots of difference with the single “1234” in The Reminder. The “1234” era that has brought her to one of the catchy-est single in 2007 is over, replaced by darker tunes, rich with more elements in percussions and electric guitar rythm, varying brass and string sessions, not to mention; darker lyrics.

The feathery voice of Leslie Feist is still he first thing that makes you want to listen to the album, but if you are aware of her previous work, you can call this album A Transformation. It’s also the theme of the title Metals. Metal as in one of the earth’s element, a symbol of transformation. An experiment done without setting limits but also without leaving the root of her music. You can hear hints of swing to jazzy. Blue, but not blues.

The most upbeat song (there are almost none) “The Bad In Each Other”, a slightly duet song with strong percussion beats is, in my opinion, the strongest song in the album, followed by “A Commotion” a neurotic song with additional male vocal and an intense choir. “How Come You Never Go There” released as the first single, is almost static, almost depressing and i questioned the choosing of this as the first single, before i listened to the whole album. I understand the choosing now; it expresses the whole album package. Dark, blue, and mature.

After listening to the whole song, my first thought, and i tweeted it, “what happened to her? Has she gone through such heart breaking events? Has she got broken hearted? Why so depressing?” Like the lyrics in “Comfort Me” (when you comfort me, it doesn’t bring me comfort, actually) or in “How Come You Never Go There” (love is not “the light it was”) . So, what has happened? Well, whatever it was, it has brought her to Metals; her transformation. And as the concept; transformation, it doesn’t stop here. So, where is this transformation bring her music in the future? We can only wait. (but i wish it ain’t gonna be darker than this)

My favorite songs in the album:

The Bad In Each Other
A Commotion
Cicadas and Gulls
Graveyard
Comfort Me

Immortals

With Tarsem Singh on director’s seat, i expected a dazzling visual experience. Sadly, Tarsem Singh is selling out.

Immortals sendiri bercerita tentang mitologi Yunani, dan perebutan kekuasaan antara manusia dan dewa. Alkisah para kaum abadi sesungguhnya bisa membunuh satu sama lain, dan pada suatu pertempuran besar, kaum abadi yang menang itulah yang kemudian disebut Dewa dan yang kalah adalah para Titan yang dikurung di Gunung Tartarus.

Satu-satunya yang bisa membebaskan para Titan yaitu busur Epirus yang hilang dan jatuh ke bumi saat pertempuran besar tersebut. Busur Epirus ini kemudian menjadi incaran Hyperion (Mickey Rourke) yang ingin menghancurkan kekuasaan Dewa-Dewa. Keberadaan Busur Epirus ini dapat diketahui melalui peramal suci Phaedra (Freida Pinto). Dalam perburuan busur inilah diperkenalkan sosok Theseus (Henry Cavill, our Superman in upcoming Man of Steel), seorang pemuda biasa yang dikucilkan oleh warga desanya karena stigma anak di luar nikah. Namun diam-diam Dewa Zeus menaruh perhatian besar pada Theseus dan mengajarinya berbagai hal dengan menyamar sebagai pria tua.

Disinilah garis besar cerita sudah dapat ditebak, –kisah klasik kepahlawanan bagaimana Theseus adalah ‘the chosen one’, jatuh hati pada si peramal cantik, menjadi pemimpin kaum mortal dalam melawan pasukan Hyperion, yada yadayada yada. I thought we already used that lame formula on that lousy Avatar.

Don’t even get me started on that horrible ending

Tidak seperti karya brilian sebelumnya The Cell dan The Fall, cerita Immortals memiliki banyak sekali kelemahan selain plot yang memang sudah klise. Sosok Phaedra bahkan sudah tidak relevan lagi porsinya sejak pertengahan film, dan kubur dalam-dalam ekspektasi adegan perang yang melibatkan busur Epirus. I don’t know why they even bother to mention it in the first place. Bahkan Dewa Zeus yang memang sengaja diperankan tokoh muda (tidak seperti tipikal sosok Zeus yang selama ini digambarkan di film-film lain) nampak kurang meyakinkan. Titan yang konon setingkat dengan ‘Dewa’ ya ternyata pada akhirnya…..begitu saja. Jika dibandingkan dengan 300-nya Zack Snyder, karakter-karakter di 300 bisa meninggalkan impresi yang jauh lebih kuat. Produser boleh sama, tapi nampaknya kontennya berkata lain.

The only good thing about Immortals is Mickey Rourke being Mickey Rourke, a badass. Untuk yang memang mengharapkan adegan gore berhamburan darah mungkin akan cukup terpuaskan dengan beberapa adegan slow motion yang cukup detil. But overall, IMHO Tarsem Singh should’ve been better than that.

Well anyway, big thanks to INAFFF and Total Film Magazine for Immortals screening opportunities! Keep ‘em coming!