The Artist

Yes, it’s the silent film that simply wowed every cinema audience in this digital era. Michael Hanazavicius, sang sutradara, rupanya tertantang untuk menyajikan format tontonan klasik ini menanggapi  fenomena penonton bioskop yang kini lebih suka menatap layar telepon selularnya daripada memperhatikan film yang sedang diputar. Dengan kembali ke film bisu dan meniadakan fitur audio, mau tidak mau penonton harus fokus pada layar untuk dapat memahami jalan cerita.  Ah! How true 😀

Mengambil setting tahun 1927, Hanazavicius  juga nampaknya ‘sengaja’ menerjemahkan premis tersebut  ke dalam kegundahan seorang aktor film bisu yang tergeser kemajuan zaman. George Valentine (Jean Dujardin) adalah seorang aktor tampan nan perlente yang cukup ternama di zamannya. Semua film (bisu, tentu saja) selalu mencetak hit dan ia juga digilai banyak penggemar wanita. Di sisi lain, ada Peppy Miller (Berenice Bejo), gadis muda berbakat yang sedang menapaki mimpinya untuk menjadi artis terkenal. Kesempatan kemudian mempertemukan mereka berdua, dan tidak terelakkan ada percikan ketertarikan antara George dan Peppy, walaupun George dikisahkan sudah beristri. Seiring kisah ini bergulir, jalan hidup mereka berdua akan berubah seketika, di tengah transisi dunia perfilman menuju film bersuara.

‘Dialogue is very efficient, but my belief is, to say the important things, you don’t use dialogue’  

(Michael Hanazavicus)

Dengan bermodalkan gestur tubuh para aktor/aktris, scoring musik menawan dari Ludovic Borce dan hanya beberapa dialog tertulis, The Artist sungguh mampu   menarik  empati penonton dengan sajian visual yang sangat cantik dari karakter-karakter yang juga tidak kalah memikatnya. Untuk  memerankan Peppy Miller si aktris muda yang riang nan genit, tentunya tidak cukup hanya bermodalkan paras jelita saja. Berenice Bejo secara natural berhasil membuat Peppy memancarkan kualitas seorang Hollywood’s SweetheartJadi penasaran bagaimana perjuangan tim kastingnya hingga sukses menemukan aktor-aktris utama yang mempunyai pesona klasik seperti Jean Dujardin dan Berenice Bejo ini 😀 Selain dua talenta berbakat ini, juga hadir nama-nama yang sudah tidak asing; John Goodman, Missi Pyle, James Cromwell hingga cameo dari Malcom McDowell.

Sebagaimana khasnya film bisu, berbagai elemen akan dapat ditemukan di sini: drama, musikal, romansa, komedi dan tentu saja tragedi. Salah satu tokoh yang mencuri perhatian tidak lain adalah anjing milik George, yang selalu sukses menyegarkan suasana dengan berbagai aksinya. Hanazavicius sengaja memberi perhatian khusus pada tokoh anjing Terrier  jenaka ini untuk menyeimbangkan karakter George yang digambarkan cenderung egosentris. Film bisu sesungguhnya mengembalikan kontrol sepenuhnya kepada penonton, dengan menggugah penonton untuk membentuk interpretasinya sendiri dari komposisi detil yang sudah disusun sedemikian rupa. In silent film, every move and detail tells their own story. Bukti lain dari keseriusan Hanazavicius menggarap format film ini antara lain dalam aplikasi teknologi yang digunakan dalam film ini; di mana teknik zoom-shot  yang merupakan teknik paling standar dalam film bahkan tidak dipakai. Kenapa? jawabannya cukup sederhana; karena pada zaman tersebut (1920an), teknologi tersebut belum ditemukan 😀

 

100 menit menyaksikan film layar lebar tanpa dialog memberikan pengalaman unik tersendiri. Apakah film bisu akan menjadi ‘trend’ setelah kesuksesan The Artist? Not necessarilybut one thing for sure; The Artist will reminds us why we fell in love with motion picture in the first place 🙂 

Simak juga interview singkat dengan Michael Hanazavicius yang dibuat oleh Joe LaMattina di sini

The First Grader

Pada tahun 2003, seorang kakek berkebangsaan Kenya, Kimani Ng’ang’a Maruge, telah mencatat rekor pada Guiness Book sebagai orang tertua (84 tahun) yang mendaftar masuk sekolah dasar. Dibuatlah sebuah film berdasarkan kisah inspirasional ini pada tahun 2010, dengan kerjasama BBC Films serta sutradara Justin Chadwick yang sebelumnya menggarap ‘The Other Boleyn Girl’ (2008)

The First Grader mengajak kita menyoroti Kenya era post-kolonial dimana Pemerintah Kenya saat itu menjanjikan pendidikan dasar cuma-cuma bagi semua. Hal ini tentu disambut gembira oleh warga, tidak terkecuali warga sebuah desa di salah satu daerah terpencil Kenya. Satu-satunya sekolah dasar yang terdekat dengan desa tersebut sempat kewalahan menghadapi serbuan orangtua yang mendaftarkan anak-anaknya untuk sekolah. Situasi semakin pelik ketika satu sosok kakek tua bernama Kimani Maruge secara mengejutkan mengemukakan keinginannya untuk ikut mendaftar.

Maruge sendiri buta huruf karena sepanjang hidupnya tidak sempat mengenyam pendidikan apapun sejak kecil diakibatkan tidak adanya biaya. Ia adalah keturunan suku Kikuyu yang pada tahun 1950an mencetuskan Pemberontakan Mau-Mau, di mana ia tergabung dalam kelompok pemberontak anti kolonial yang menentang militer pemerintah Inggris yang saat itu menduduki Kenya.

Menanggapi hal ini, pihak sekolah sempat mencemooh dan mengusir Maruge dengan alasan umurnya toh sudah tidak lama lagi sedangkan masih banyak anak-anak yang bahkan belum mendapat jatah bangku. Siap-siap menitikkan air mata menyaksikan kegigihan Maruge agar bisa diterima bersekolah. Siapa yang tega melihat sosok ringkih seorang kakek yang berjalan tanpa alas kaki dan ditompa oleh tongkat, harus menempuh jarak pulang pergi yang tidak bisa dibilang dekat, hanya untuk sekedar belajar alfabet?

Di balik keinginan Maruge untuk belajar baca tulis, sebetulnya ada satu alasan yang bisa dibilang sangat sederhana. Ia memiliki sebuah surat yang disimpannya sejak lama, dan ia ingin dapat membacanya sendiri, tanpa dibacakan orang lain.

Rupanya hal tersebut mengetuk hati Jane Obinchu (Naomie Harris), kepala sekolah di SD tersebut. Walau sempat ditentang oleh beberapa guru, Jane akhirnya mengizinkan Maruge untuk menjadi salah satu murid bersama anak-anak lainnya. Perjuangan Maruge dan Jane rupanya tidak berhenti sampai disitu, karena kehadirannya di SD tersebut menarik perhatian berbagai pihak mulai dari media hingga rasa iri warga desa. Masalah demi masalah mulai membayangi Maruge dan Jane, dari isu yang berangkat dari konflik etnis hingga kepentingan politis.

Sebuah kutipan dari psikolog & filsuf Erich Fromm mengatakan,

Why should society feel responsible only for the education of children, and not for the education of all adults of every age?

Pertanyaan ini cukup menggambarkan kisah dari Maruge dan bagaimana akses pendidikan seharusnya menjadi hak setiap orang tanpa pandang umur. The First Grader juga menceritakan betapa birokrasi yang kaku menyulitkan para guru di lapangan untuk dapat memberikan sarana pendidikan terbaik bagi para muridnya. Pengembangan karakter Maruge dibentuk dari beberapa flashback masa lalunya, di antaranya saat ia kehilangan keluarganya secara tragis saat pemberontakan, dan saat ia harus menjalani berbagai siksaan saat disekap di kamp konsentrasi militer Inggris.

Yang menarik adalah, walaupun film ini menggambarkan kekejaman militer Inggris saat pendudukan dulu, fakta bahwa sutradara adalah orang Inggris serta mendapat dukungan dari BBC dan UK Film Council Lottery Fund cukup membuat saya angkat topi. Chadwick sendiri dalam production notes mengatakan bahwa ia memang ingin memberikan gambaran akan sisi lain dari pemberontakan Mau-Mau yang selama ini lekat dengan stigma kejam dan barbar, dan tidak ada yang cukup perduli pada apa yang sebetulnya terjadi saat itu. Pada kenyataannya, pemberontakan tersebutlah yang justru mengantarkan Kenya pada kemerdekaan dari penjajahan kolonial.

Film ini akan membuat orang yang telah menyia-nyiakan pendidikan (dan yang mempersulit akses pendidikan) tertunduk malu. Maruge telah membuktikan bahwa one is never too old to learn 🙂 Empat jempol untuk akting Oliver Litondo sebagai Maruge dan aktris Inggris Naomie Harris!

Sang tokoh asli telah tutup usia tahun 2009 lalu, setelah sebelumnya sempat berangkat ke United Nations Millenium Development Summit tahun 2005 untuk berbicara mengenai pentingnya pendidikan dasar.

The First Grader is a heartwrenching true story which defines what inspirational truly means 

50/50

Nampaknya karena Joseph Gordon Levitt memang dianugerahi wajah yang melas, ia cocok sekali memerankan peran tokoh teraniaya macam Cameron James di 10 Things I Hate About You, Tom Hansen di 500 Days of Summer, atau seperti perannya sebagai Adam di film 50/50 ini. Kecuali tentunya saat ia mendobrak itu semua lewat Hesher (2010) :p. Well anyway, back to 50/50, Adam adalah pemuda twenty-something biasa, bekerja sebagai produser di sebuah stasiun radio dan memiliki pacar cantik yang tinggal bersamanya. Dunianya seketika jungkir balik saat ia divonis dokter mengidap sebuah kanker tulang belakang yang langka. Tentunya bukan kabar yang ingin didengar seseorang di saat usianya baru saja 27 tahun.

Adam: A tumor? 
Dr. Ross: Yes. 
Adam: Me? 
Dr. Ross: Yes. 
Adam: That doesn’t make any sense though. I mean… I don’t smoke, I don’t drink… I recycle…

Untuk fim dengan tema kanker, plotnya cukup mudah dicerna, tidak semelankolis Dying Young (1991) atau sedepresi Funny People (2009). Namun ada benang merah yang menghubungkan 50/50 dengan Funny People, yakni sama-sama dibintangi Seth Rogen. Disini Seth Rogen berperan sebagai Kyle, sahabat Adam yang ceplas-ceplos. (well, Seth Rogen is being Seth Rogen indeed 😀). 50/50 sendiri adalah angka presentasi kesembuhan Adam yang diprediksi oleh dokter.  Keistimewaan kisah 50/50 ini memang terletak pada kesederhanaannya. Seolah menyampaikan that shit does just happen sometimes and it doesn’t discriminate, even to a guy as decent, as mild, as good as Adam. Adam kini menjalani kesehariannya dengan rangkaian kemoterapi, berkenalan dengan pasien kanker lain, juga sesi terapi dengan psikiater kikuk Katherine (Anna Kendrick). Ia pun harus menghadapi kepanikan sang ibu (Anjelica Huston, in one of her less-scary gesture here :D) dan the girlfriend we’d all love to hate, Rachael (Bryce Dallas Howard, yang nampaknya mulai menapaki spesialis peran antagonis sejak akting gemilangnya di The Help :D). Seiring waktu dan penyakit yang kian menggerogoti, makin sulit bagi Adam untuk tetap bersikap positif.

Adam: That’s what everybody’s been saying: You’ll feel better and don’t worry and this is all fine and it’s not. 
Katherine: You can’t change your situation. The only thing that you can change is how you choose to deal with it.

50/50 is a light hearted, feel good movie of comedy/tragedy. Scene stealer tentu layak disematkan pada Seth Rogen dengan semua celetukan konyol dan comedic-timing yang pas. Salah satu penulis review di IMDB yang juga cancer-survivor bahkan memuji film ini atas penggambaran yang begitu jujur dan mengungkapkannya ke dalam kalimat yang begitu mengena:  ‘the humor was wonderfully placed, because without humor, life with cancer is unbearable.’ .Tidak heran jika 50/50 bisa begitu menyentuh, karena memang diangkat dari kisah nyata sang penulis naskah, Will Reiser yang juga sahabat Seth Rogen di kehidupan nyata.  Dalam wawancara Will Reiser dan Seth Rogen disini banyak hal menarik terkait bagaimana persahabatan mereka yang menjadi inspirasi 50/50, James McAvoy yang sedianya akan dicast menjadi Adam, sulitnya mengupayakan alokasi budget agar lagu dari Radiohead dan Pearl Jam bisa hadir di film ini, dan lain-lain.

Survival has never been this sweet 😀 7.5/10

Adam: What were you doing when I called? Were you on facebook? 
Katherine: You know… umm… stalking my ex-boyfriend actually isn’t the only thing I do in my free time. 
Adam: I wish you were my girlfriend. 
Katherine: Girlfriends can be nice. You just had a bad one. 
Adam: I bet you’d be a good one.


Another Earth

Secara kebetulan ada dua karya di ajang festival film tahun 2011 yang mengangkat tema serupa tapi tak sama. Yang pertama adalah Melancholia karya Lars Von Trier yang mengangkat drama dibumbui plot sebuah planet yang berpotensi menghancurkan bumi, serta Another Earth, yang juga dihiasi planet lain, namun berupa bumi paralel.

Walau Melancholia bermain di ‘liga besar’ seperti Cannes dan European Film Awards, IMHO secara storytelling daya pikat Another Earth jauh lebih besar, terbukti film ini meraih Special Jury Prize dan Alfred P. Sloan Feature Film Prize di Sundance Film Festival. Jangan membayangkan plot Another Earth akan penuh aksi terkait armageddon seperti Deep Impact, karena sesungguhnya film ini bercerita mengenai introspeksi, kontemplasi, harapan, identitas dan tentu saja, cinta. In the parallel universe, this could have been a love story. 

Rhoda (Brit Marling, aktris sekaligus penulis naskah Another Earth) seharusnya menjalani impiannya untuk mempelajari astrofisika saat ia resmi diterima di MIT (Massachussets Institute of Technology). Apalagi saat yang bersamaan, para peneliti telah mempublikasikan bahwa telah ditemukan sebuah planet yang secara misterius memiliki banyak kemiripan dengan bumi. Namun kecerobohannya mengantarkan alur nasib yang tragis saat ia terlibat pada kecelakaan mobil yang menewaskan seorang ibu yang sedang hamil dan anak tertuanya. Adegan berpindah menuju 4 tahun kemudian saat Rhoda baru saja bebas dari vonis hukuman 4 tahun penjara.

Spending her youth in prison has suck the personality out of her. Kian murung dan gamang atas masa depannya, Rhoda secara perlahan semakin menarik diri dari lingkungannya. Rasa sesalnya juga mendorong Rhoda hingga sampai ke depan pintu rumah John Burroughs (William Mapother) lelaki yang kehilangan keluarganya di kecelakaan tragis 4 tahun lalu. Saat hanya satu pintu yang memisahkan dua sosok terpuruk ini, mampukah Rhoda menyampaikan permintaan maafnya?

Spot some drama? yes. Namun tidak seperti Von Trier yang terlalu asyik sendiri dengan dunia melankolisnya, Mike Cahill disini mampu mengolah emosi dan cerdas menangkap ‘momen’ sehingga premis bumi parallel sengaja dihadirkan untuk melengkapi rangkaian ‘cantik’ pertanyaan-pertanyaan dalam mencari jati diri. Tahukah perasaan yang ditimbulkan saat menyaksikan video ‘Pale Blue Dot’ dengan narasi ahli astronomi Carl Sagan? Exactly my point 😀

Richard Berendzen: In the grand history of the cosmos, more than thirteen thousand million years old, our Earth is replicated elsewhere. But maybe there is another way of seeing this world. If any small variation arises-they look this way, you look that way-suddenly maybe everything changes and now you begin to wonder, what else is different? Well, one might say that you have an exact mirror image that is suddenly shattered and there’s a new reality. And therein lies the opportunity and the mystery. What else? What new? What now? 

Beberapa momen yang cukup  bisa menggetarkan para penggemar sci-fi adalah saat adegan first contact dengan planet misterius tersebut yang menguak adanya dunia paralel lewat sinyal radio. Berlanjut dari euphoria tersebut, sebuah kompetisi bahkan diadakan, dengan iming-iming hadiah diterbangkan oleh NASA untuk mengunjungi ‘bumi kedua’. Hal ini dapat diterjemahkan sebagai sebuah analogi akan harapan, kesempatan, jalan keluar.

Ada sindiran yang disampaikan tokoh John Burroughs mengenai superioritas manusia, terkait pemberian nama ‘Earth 2’ oleh para peneliti di televisi.

‘What if the ‘Earth 2′ does not seeing themselves as the second earth?’

Richard Berendzen: Within our lifetimes, we’ve marveled as biologists have managed to look at ever smaller and smaller things. And astronomers have looked further and further into the dark night sky, back in time and out in space. But maybe the most mysterious of all is neither the small nor the large: it’s us, up close. Could we even recognize ourselves, and if we did, would we know ourselves? What would we say to ourselves? What would we learn from ourselves? What would we really like to see if we could stand outside ourselves and look at us? 

Another Earth. A very thoughtful cosmic drama about soul-searching. 

Red State

Belum puas menggedor isu agama lewat film Dogma (1999), kini giliran kaum fundamentalis yang diangkat Kevin Smith sebagai sentral cerita film Red State. Aktor/penulis/sutradara yang sebelumnya dikenal lewat karya komedi seperti Jay and Silent Bob, seri Clerks dan Zack & Miri Make A Porno tanpa ragu memberi label horor pada film yang dipasarkannya secara gerilya ini. Teaser-posternya yang cukup sederhana dengan  sosok putih berdiri di depan salib mungkin membuat banyak orang berpikir film ini bercerita tentang aktivitas exorcism. Namun horor yang dimaksud Kevin ternyata memang jauh lebih nyata, dan tentunya lebih mencekam.

Bayangkan saja, apa yang lebih menyeramkan dibanding sekelompok kaum ekstrimis fundamentalis yang memiliki gudang senjata, menculik dan membunuh orang yang bersebrangan paham dengan mereka? Exactly.

Living in this country with those moronic extrimist such as FPI, i know i can definitely relate. Wouldn’t you?

Kevin Smith jelas terinspirasi dari Westboro Baptist Church, sekte gereja ekstrim yang bahkan di Amerika sendiri sudah dikategorikan ke dalam hate group karena aksi protes mereka yang cukup brutal. Stasiun Televisi Inggris BBC pun pernah membuat seri dokumenter tentang kehidupan salah satu keluarga dari sekte ini yang bertajuk ‘The Most Hated Family in America’ (1997)

Dalam Red State, sekte ekstrimis tersebut bernama Five Point Church yang dikepalai oleh pendeta Abin Cooper (Michael Parks). Kota dimana mereka tinggal sedang diramaikan oleh berita orang hilang serta pembunuhan terhadap remaja gay. Kasus ini menjadi pembicaraan seisi kota, termasuk jadi bahan diskusi kelas di sebuah sekolah. Diperkenalkanlah Travis, Jared dan Billy Ray ke dalam cerita. Tiga orang pemuda ini merupakan penggambaran stereotype remaja tanggung; badung,serba ingin tahu and horny all the time. Tidak heran saat Jared mengaku mendapat undangan untuk melakukan group sex dengan seorang wanita yang ditemuinya lewat internet, mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Tanpa sadar, mereka jatuh ke dalam perangkap yang dipasang oleh aktivis Five Point Church.

Buang jauh-jauh bayangan akan torture sex or some gory scenes seperti film horor/thriller pada umumnyakarena kengerian sesungguhnya terwujudkan bukan dalam adegan banjir darah, namun dalam ceramah penuh kebencian dari pendeta Cooper. Ceramah yang juga disampaikan kepada kaum pengikutnya yang terdiri dari wanita dan anak-anak. Fanaticism is horrifying, indeed.

Pastor Abin Cooper: You’re already dead sinner. You destroyed your spirit in a waste of shame.

Lalu dimana perkembangan plotnya? Yakni saat seorang agen khusus Joseph Keenan (John Goodman) diutus oleh kepala polisi setempat untuk mengepung perumahan milik Five Point Church saat dicurigai adanya aktivitas mencurigakan di dalam gereja mereka. Disinilah Kevin Smith mulai ‘bermain’ dengan dialog-dialog satir yang dipadukan dengan berbagai sentimen politis, adegan baku tembak yang brutal, serta hubungan kekeluargaan yang absurd. Jangan mengharapkan ada tokoh protagonis, apalagi heroic ending. Twist yang ditawarkan menjelang akhir film bahkan bisa dibilang membuat saya….terpingkal. In a good way, that is. 😀

Di luar berbagai kontroversi dan kritik yang melekat pada film yang hanya menghabiskan waktu kurang dari sebulan untuk syuting serta budget yang hanya US$ 4 juta ini, Red State cukup mampu memberikan sentuhan horor yang berbeda. Penggambaran betapa mematikannya doktrin holier than thou’ ini cukup memberikan rasa ngilu dan membuat saya bisa mengatakan persetan dengan rating yang ‘hanya’ 58% dari Rotten Tomatoes. Red State can be so gripping to watch, because the subject (read: religion fanaticism) is real…and it’s near, just around the cornerBe afraid, be very afraid.

Joseph Keenan: People just do the strangest things when they believe they’re entitled. But they do even stranger things when they just plain believe.

 

The Raid

I can’t tell you much about The Raid (cause my friends would probably kill me for lashing out spoilers :D)

But i can tell you this: The Raid lives way beyond its hype.

Mind-blowing,  breathtaking, ass-kicking, jaw-breaking, blood-dripping, adrenaline-rush experience that would make the whole cast of The Expendables goes to shame.

Plot dasar dari The Raid memang terdengar sederhana. Pasukan khusus yang dipimpin Jaka (Joe Taslim) dengan misi khusus menyerbu bangunan sarang bercokolnya bos kriminal Tama (Ray Sahetapy) beserta dua orang kepercayaannya Mad Dog (Yayan Ruhiyan) dan Andi (Donny Alamsyah). Di antara pasukan tersebut terdapat Rama (Iko Uwais) yang di balik misi utamanya memiliki tujuannya sendiri.

Beberapa dialog canggung termaafkan dan tenggelam di antara dahsyatnya adegan pertarungan dan pembantaian para pasukan khusus yang menyerbu sarang bos kriminal ini. Atlet judo nasional, Joe Taslim ternyata mampu memberikan performa akting yang sama sekali tidak mengecewakan sebagai Jaka. Ray Sahetapy juga sukses menampilkan sosok bos mafia yang bengis dan ditakuti.

While all hells break loose by Iko Uwais. Dibandingkan sosok pemuda ‘naif’nya di Merantau, karakter Iko disini sebagai Rama lebih ‘tanpa ampun’ menghajar habis-habisan gerombolan penjahat yang menghalangi jalannya. If you think you’ve seen everything on Merantau, think again. Sekali lagi duet koreografer adegan tarung Iko Uwais dan Yayan Ruhiyan membuat penonton nyaris kehabisan nafas dalam setiap adegan aksi brilian hasil racikan tangan dingin mereka. I’m way beyond lucky to have this opportunity to watch the uncut versionBrutal headshots, merciless stabs and all  😀

Tidak heran penonton internasional begitu takjub menyaksikan film dengan komposisi martial art yang begitu total, sebuah seni yang kini sudah jarang sekali ditemui film-film aksi keluaran Hollywood. Apalagi jika mereka melihat sosok Iko dan Yayan yang memang cukup ‘petite’, bahkan jika dibandingkan dengan sesama orang Asia seperti Joe Taslim ataupun Donny Alamsyah. But they kick yo’ caucasian asses for sure!  :p

Original Scoring dari duo komposer Fajar Yuskemal dan Aria Prayogi juga tidak kalah memikat dari teaser scoring Mike Shinoda yang sudah ditunjuk Sony untuk mengisi komposisi musik untuk The Raid rilisan internasional. Dengan Screen Gems yang juga sudah menaruh minat untuk membuat remake-nya, masih belum jelas apakah cast-nya nanti akan tetap Iko Uwais atau diganti. Yang jelas Gareth Evans sang sutradara nanti akan duduk sebagai executive producer.

Good luck remaking all THAT, Hollywood. Ain’t no caucasian can move their hands as fast as Iko Uwais! 😀

The Raid ditutup dengan standing applause dari seluruh penonton INAFFF. The best closing movie ever.

Salute to Gareth Evans, all actors and  crew!

Thank you so much INAFFF for the invitation! 😀

The Raid – coming soon to cinema, January 2012

The Incident

Kurang lebih itulah yang ditawarkan The Incident, salah satu film yang cukup menjadi bahan pembicaraan sepanjang INAFFF. George, Max dan Ricky adalah tiga orang pemuda yang menghabiskan waktunya bekerja sebagai juru masak di rumah sakit jiwa Sans yang terletak di pinggir kota. Memang bukan pekerjaan impian, namun cukup untuk menyambung hidup dan mimpi mereka sebagai band yang sedang merintis karir dari gigs kegigs.

Sudah biasa dalam film horor/thriller dimana situasinya digambarkan terjebak di kegelapan dan diiringi hujan badai. Namun terjebak di kegelapan, diiringi hujan badai, terkunci di dalam rumah sakit jiwa berisikan berbagai macam psikopat yang bebas berlarian? Nah, itu baru mimpi buruk sebenarnya.

Kurang lebih itulah yang ditawarkan The Incident, salah satu film yang cukup menjadi bahan pembicaraan sepanjang INAFFF. George, Max dan Ricky adalah tiga orang pemuda yang menghabiskan waktunya bekerja sebagai juru masak di rumah sakit jiwa Sans yang terletak di pinggir kota. Memang bukan pekerjaan impian, namun cukup untuk menyambung hidup dan mimpi mereka sebagai band yang sedang merintis karir dari gigs kegigs.

Sans Asylum sendiri digambarkan sebagai rumah sakit jiwa yang memang didesain untuk ‘mengurung’ para pasiennya dengan tingkat keamanan maksimum. Dari mulai bangunan yang hampir tanpa jendela serta akses elektronik untuk seluruh pintu. Yes, a very depressing asylum indeed. I don’t know why people would designed such place without making its patient even crazier :p

Suatu hari hujan turun lebih lebat dari biasanya. Dalam gemuruh petir yang saling bersahutan, tiba-tiba Sans Asylum dihadapkan pada skenario terburuk: mati listrik. Bukan hanya kegelapan yang menyambut para juru masak serta petugas Sans Asylum, namun fakta bahwa dengan matinya listrik tersebut, akses keluar masuk pun terputus dikarenakan seluruhnya dijalankan dengan elektronik.

Atmosfir ketegangan mulai terbangun saat lumpuhnya sistem keamanan Sans Asylum memicu para pasien untuk lepas kontrol dan secara brutal membunuh para petugas. George, Max dan Ricky harus memutar otak untuk bertahan hidup sebelum para pasien menyeret mereka dalam ‘permainan’ hidup dan mati. Lupakan opsi telepon genggam, karena film ini memang bersetting di tahun 1987.

The Incident adalah debut film pertama Alexander Courtes, yang sebelumnya menyutradarai video musik milik U2, The White Stripes, Coldplay, Kylie Minogue dan masih banyak lagi. Walaupun berbagai situs seperti bloody-disgusting.com mengungkapkan kekecewaannya pada film yang eksekusinya dinilai lemah ini, namun tidak demikian menurut para penonton The Incident di INAFFF lalu. Kengerian terisolasi dalam temaram dinding-dinding rumah sakit jiwa yang ‘dingin’ cukup berhasil meneror para penonton, yang juga ‘dipaksa’ untuk ikut menebak-nebak apa yang akan terjadi di tiap langkah, tiap putaran, tiap sudut, tiap jeritan. Bagaimanapun, teror dari manusia hidup –yang gila, and simply merciless;  memang jauh lebih menyeramkan dibandingkan hantu.

Kelemahan film ini mungkin terdapat pada pengenalan awal ketiga tokoh, yang dimaksudkan sebagai character-development namun Courtes agak sedikit bertele-tele sehingga sisipan kisah George dan kekasihnya agak sedikit dipaksakan.

Bagaimana dengan adegan gore? Bisa dibilang dibandingkan film slasher/thriller lainnya, The Incident tidak terlalu eksplisit dan membanjiri layar dengan genangan darah. Namun di Toronto International Film Festival yang juga memutar film ini, beberapa penonton konon sampai ada yang jatuh pingsan dan dilarikan ke ambulans karena tidak sanggup menonton sebuah adegan penyiksaan. Dari penonton INAFFF sendiri? beberapa teman saya yang gemar menonton film gore bahkan ‘menuntut’ adanya barf bag kepada panitia karena salah satu adegan finale –yang sebenarnya cukup sederhana, nampaknya cukup membuat mual :p

 So, get your flashlight! Let’s check out who’s been lurkin around the corner.
And, oh, Don’t forget to breathe!