Efterklang – Parades

Jika Anda mencoba untuk mengkotak-kotakkan album Parades dari Efterklang, band asal Denmark ini, maka saya jamin Anda akan kesulitan.

Harmonisasi vokal yang apik namun tidak flashy dan berlebihan serta dominannya unsur klasikal dari string dan brass section sekilas mengingatkan Anda akan musik folk, dengan keeksentrikan freak folk dan karakter khas Skandinavia. Namun bukan hanya itu yang mereka tawarkan. Mereka tidak mengulang-ulang formula sama yang sudah menjadi makanan dedengkot baroque pop/indie folk postmodern macam Arcade Fire, Fleet Foxes, atau Mumford and Sons. Alih-alih, mereka menggunakan cara mereka sendiri yang brilian. Gemuruh vokal yang membahana, melodi-melodi yang seolah ‘memaksa’ Anda untuk berhenti dan mendengar, bahkan sedikit permainan glitch elektronika. Lirik mereka dinyanyikan dalam bahasa Inggris, namun aksen Denmark mereka yang kental serta keengganan mereka untuk memberitahukan isi lirik mereka (di website mereka, Efterklang menjelaskan bahwa mereka tak ingin lirik mereka dianggap sebagai entitas terpisah dari lagu) menambah misteri dan keingintahuan Anda saat mendengarkan gelora musik bernama Efterklang. Apa yang mereka nyanyikan? Apa yang mereka senandungkan? Apa yang mereka ceritakan? Hanya Efterklang yang tahu jawabannya.

Namun bukan berarti Anda tidak bisa menikmatinya. Kebalikannya malah. Tak seperti skenario biasa di mana, jika Anda menikmati lagu tersebut, Anda tergerak untuk ikut bernyanyi, lirik mereka yang nyaris unintelligible membuat Anda tak banyak berbicara. Terkadang, di momen-momen melankolis dan nyaris psikedelik seperti ‘Frida Found a Friend’ yang memainkan emosi atau ‘Blowing Lungs Like Bubbles’ yang indah, Anda hanya bisa terduduk dalam diam, menutup mata dan tersenyum, menikmati perjalanan mental tersebut. Dan di momen-momen lain, seperti ‘Caravan’ yang manis dan sedikit mengumbar keluguan masa muda, ‘Him Poe Poe’ yang riang, atau, favorit pribadi saya, ‘Mirador’ yang epik, Anda tergerak untuk berdiri… dan berdansa. Entah di kerumunan, entah sendirian di kamar Anda, entah bersama kawan-kawan. Musik mereka begitu… megah. Begitu indah. Mengubah paradigma Anda akan apa musik itu sebenarnya. Saya berani berkata bahwa ini adalah salah satu album terbaik yang pernah saya dengar, dan percayalah, itu bukan hiperbola.

Memang, album ini bukan tipikal album yang catchy dan mudah dicerna. Mungkin butuh 2, 3, bahkan mungkin 4 kali mendengar sebelum Anda benar-benar mengerti dan mengapresiasi magis bernama Parades ini. Bagi beberapa pendengar yang masih awam dengan musik-musik ‘rumit’ dan ‘aneh’, Parades tidak lebih dari album yang tidak jelas dan terkesan seenaknya sendiri. Seorang penikmat musik yang tipikal akan kesulitan mengapresiasi album ini. Namun justru itu letak spesialnya. Ini bukan album tipikal, ini album luar biasa. Ya, ada beberapa sisi yang tidak sempurna. Lagu-lagu seperti ‘Blowing Lungs Like Bubbles’ serta ‘Him Poe Poe’ terlalu cepat berakhir, bagaikan bunga yang layu terlalu cepat. Dan nomor ‘Mimeo’, walaupun indah, terkesan seperti filler belaka. Tapi momen-momen magis seperti ‘Polygyne’ yang atmosferik atau ‘Mirador’ yang luar biasa membuat Anda memaafkan sifat nir-lirik album ini, membuat Anda memaafkan kesan mereka yang agak rumit nan pretensius, membuat anda memaafkan ketidaksempurnaan-ketidaksempurnaan apapun dari album ini. This album may not be everybody’s cup of tea, but it is undeniably special.

Rating: 5/5

One Reply to “Efterklang – Parades”

  1. Thanks for introducing me to this group! Your article made me curious and start listening to it. It turns out that I like it! I may be a bit bored with all kinds of pop music and longing for the one different from it and yet fits my taste. Thanks for sharing! 🙂

Leave a Reply to Tari Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.