In Time

In Time Movie Poster

Pada tahun 2161 manusia tidak lagi harus khawatir menjadi tua, manusia bahkan dapat hidup untuk selamanya. Melalui sebuah rekayasa genetik, manusia berhenti menjadi tua pada umur 25. Secara fisik berapapun umurnya, orang tersebut akan tetap terlihat seperti 25 tahun. Berita buruknya, setelah mencapai umur tersebut seseorang hanya punya jatah waktu untuk hidup selama satu tahun. Berita baik lainnya adalah jatah waktu tersebut dapat ditambah, misalnya dengan bekerja atau transfer jatah waktu dari orang lain. Singkatnya, waktu telah menjadi alat tukar semacam mata uang. Jadi apapun yang kamu lakukan, kamu harus membayar atau dibayar menggunakan jatah waktu tersebut.

In Time adalah cerita tentang seorang pemuda bernama Will Salas (diperankan Justin Timberlake) yang menemukan ketidakadilan dalam sistem setelah pertemuan singkatnya dengan Henry Hamilton (Matt Bomer). Kota yang mereka tinggali dibagi berdasarkan kelas sosial yang biasa disebut dengan Time Zone, Dayton untuk kelas pekerja dan orang miskin dengan jatah waktu yang pas-pasan, serta New Greenwich untuk mereka yang mempunyai banyak jatah waktu atau bahkan terkadang terlalu banyak sehingga orang-orang di sini semacam dapat hidup selamanya. Ketimpangan inilah yang disampaikan Henry kepada Will dan menjadi alasan bagi Will berkunjung ke New Greenwich untuk pertama kalinya. Perjalanan mencari keadilan ini tidak berjalan mulus, Will malah bertemu masalah baru serta berurusan dengan para penguasa.

Menggambarkan kondisi sosial masyarakat saat ini dengan analogi waktu sebagai uang adalah ide yang cerdas, juga ketika memilih setting di masa depan. Sayangnya, ide cerita luar biasa ini tidak digarap dengan baik oleh Andrew Niccol sang sutradara. Tidak ada konflik-konflik yang luar biasa, tidak ada dialog-dialog cerdas untuk mengantarkan ide cerita tadi, tidak ada ketegangan sedikitpun yang bisa penonton nikmati. Alur cerita juga datar, cenderung membosankan karena mudah ditebak. Visual sedikit membuat saya senang, ornamen-ornamen dari tahun ’60an diterapkan dalam setting masa depan adalah sebuah ide bagus, orang sering menyebut ini sebagai retro-futurism.

Cast juga tidak menghembuskan berita baik, Justin yang mencuri perhatian saya dengan aktingnya di The Social Network ternyata tidak sesuai dengan harapan saya. Kehadiran para superstar televisi seperti Johnny Galecki (The Big Bang Theory) dan Matt Bomer (White Collar) tidak membantu Justin untuk berakting bagus di film ini. Tapi sejak aktor sekelas Cillian Murphy juga terlihat buruk, maka sorotan tetap tertuju kepada Niccol. Rupanya Gattaca hanya akan menjadi satu-satunya film Niccol yang outstanding dan saya harus berhenti berharap dia akan mengulang prestasi tersebut.

Author: Andri Permana

Music and movie enthusiast.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.