We Bought A Zoo

Ini adalah sebuah cerita tentang mimpi seorang anak kecil berumur tujuh tahun, hidup di kebun binatang, bersama orang-orang yang menyenangkan sekaligus mencintainya. We Bought A Zoo adalah sebuah dongeng yang diceritakan oleh Cameron Crowe, Matt Damon, Scarlett Johansson, dengan sedikit bantuan dari Sigur Ros di akhir film.

Benjamin Mee adalah seorang jurnalis yang menyukai petualangan, hidupnya berubah ketika ditinggalkan sang istri yang meninggal dunia saat kedua anaknya Dylan berumur 14 dan Rosie 7 tahun. Sebagai seorang ayah yang hidup dari petualangan, yang berarti lebih banyak meluangkan waktu di luar rumah, Benjamin merasa kewalahan mengurusi dua anaknya tersebut, terutama Dylan yang bermasalah dengan interaksi sosialnya di sekolah. Seperti halnya seseorang yang kebingungan karena salah satu pegangan hidupnya menghilang, Benjamin memilih opsi untuk meninggalkan semuanya di belakang dan memulai kehidupan baru di tempat yang berbeda, dengan pekerjaan yang berbeda, bersama orang-orang yang juga berbeda. Enam bulan setelah kematian istrinya, dia memilih untuk berhenti dari pekerjaannya, pindah rumah dan memilih tinggal di sebuah lahan yang sangat luas beserta semua isi dan lingkungannya. Uniknya, Benjamin memilih sebuah kebun binatang sebagai tempat tinggalnya. Yup, they bought a zoo!

Di ‘rumah’ mereka yang baru, keluarga ini bertemu dengan orang-orang yang mengurus kebun binatang itu sebelumnya, salah saunya adalah Kelly Foster sang kepala kebun binatang. Bersama-sama foster dan timnya, Benjamin membangun sebuah kebun binatang yang ditinggal pemiliknya dua tahun ke belakang. Sebuah drama ringan dibentuk, bagaimana membuat kebun binatang yang sudah lama ‘mati’ ini kembali hidup dan menyediakan banyak kesenangan, untuk para pengunjung nantinya, dan yang paling penting adalah untuk Rosie dan Dylan, dua buah hati Benjamin yang merupakan alasan utama kenapa dia memilih tempat tersebut untuk memulai hidup baru.

We Bought A Zoo adalah sebuah drama yang tidak sulit, tapi bukan berarti tidak menyenangkan untuk dinikmati. Film yang diinspirasi oleh keberadaan sebuah kebun binatang yang memenangkan penghargaan terbaik atas bagaimana mereka mengemas kebun binatang (Dartmoor Zoological Park di Devon, Inggris) tersebut adalah sebuah drama keluarga ringan yang saya pikir sangat disarankan untuk anda yang ingin memberikan tayangan hangat untuk keluarga. Satu hal lagi, pada akhir cerita, Crowe yang kita kenal sebagi sutradara yang dekat dengan dunia musik menceritakan keseluruhan cerita dengan musik pengantar dari musik-musik mengagumkan seperti Cinnamon Girl dari Neil Young sampai dengan Holocene dari Bon Iver. Crowe lalu kemudian mengantarkan akhir cerita dengan sangat elegan, menyimpan Hoppípolla di akhir film. Crowe patut diberi banyak kredit untuk melakukan hal tersebut.

Pearl Jam Twenty

Twenty adalah sebuah dokumenter tentang Pearl Jam. Ketika band-band lain berganti personil, terlibat urusan hukum, menjadi miskin karena kebuntuan ide, masalah obat-obatan, dan banyak lagi rintangan khas yang dialami sebuah band yang terlahir di akhir era 80’an, Pearl Jam trus berkarya. Selama dua puluh tahun karir mereka di dunia musik, yang Pearl Jam lakukan adalah bersenang-senang dan membuat orang lain senang.

Diceritakan dua orang pentolan kultur musik Seattle akhir 80’an, Jeff Ament dan Stone Gossard yang dibesarkan – dan ikut membesarkan kultur musik kota tersebut. Bagaimana dua orang tersebut menjadi bagian dari sebuah kultur musik dimana hanya ada belasan band (tidak seperti yang terjadi di Los Angeles, ratusan band ada di kota itu) namun saling mengenal satu sama lain. Dalam kultur seperti inilah Pearl Jam terlahir, di kota Seattle, Washington, band yang setelah keluarnya Jack Irons (digantikan Matt Cameron) sejak 1998 tidak pernah berganti personil, kemudian tumbuh besar dan sangat solid untuk terus hidup selama lebih dari dua puluh tahun. Sampai saat ini, Pearl Jam sudah menelurkan sembilan buah studio album dan delapan buah album live.

Pearl Jam Twenty dibuat oleh seorang penggemar berat rockumentary yang memperkenalkan kita kepada band asal Seattle lainnya Alice in Chains, mendokumentasikan dua legenda musik Elton John dan Leon Russell dalam album duet mereka The Union, dan mengangkat kebesaran Tom Petty ke layar lebar, Cameron Crowe. Crowe menyajikan sebuah tontonan yang sangat apik, dalam dokumenter ini akan kita temui banyak sekali footage-footage yang jarang (atau bahkan tidak pernah) ditampilkan untuk publik. Salah satu yang menarik perhatian adalah tentang kasus sengketa antara mereka dengan sang raja tiket Amerika: Ticketmaster, dalam Twenty kasus ini dibahas cukup gamblang dengan sudut pandang sang artis yang saat itu kalah telak karena kuasa terhadap media dan birokrasi hukum. Cerita hubungan Pearl Jam dengan sang tetangga, Nirvana, juga dikupas dalam dokumenter yang didedikasikan untuk ulang tahun ke-20 mereka ini, sebuah penampilan khusus untuk sang frontman legendaris Kurt Cobain pada tanggal 8 April 1994 (hari dimana Cobain ditemukan meninggal dunia) menunjukan betapa Seattle mempunyai kultur musik yang solid dan pertentangan diantara mereka adalah hasil rekayasa media belaka.

Jeff Ament, Eddie Vedder, Stone Gossard, Mike McCready, dan Matt Cameron adalah lima orang musisi hebat yang patut dijadikan panutan untuk para musisi generasi berikutnya. Dokumenter ini, bisa dijadikan semacam referensi untuk mereka yang ingin mengenal Pearl Jam lebih dalam. Sebagai penggemar musik asal Seattle, Pearl Jam Twenty dan rilis khusus Nevermind edisi dua puluh tahun, adalah sebuah hadiah yang sangat berharga.

It felt like being in the center of the world, and I felt like I was a witness to history and I knew that the whole world was watching on television. So, I could feel the collective consciousness of the world focused on this little strip of land called Seattle. -Krist Novoselic of Nirvana